Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 November 2013

Sayap Pelindungmu [cerpen]

Cerita ini diikut sertakan dalam challenge menyambut rilisnya single perdana TheOvertunes berjudul Sayap Pelindungmu, ahik tjiee (?)

H-4!



____________________________________________________________________________

Dia melihatnya.

Kurang lebih empat kali ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

Lebih dari tiga kali dan dia tetap diam tanpa bertindak sudah cukup membuatnya tak berguna. Lemah. Kini yang keempat kalinya benar-benar membuatnya meledak. Ia muak.

Seolah melepas segala rasa, ia sudah berlari tadi, tindakan yang membuat kulit pipinya tergores gunting.

Tapi ini lebih baik baginya daripada harus gadis itu yang terus menerus tersakiti.

"Aku benar-benar menyesal, kau  harusnya tidak perlu menolongku.."

Gadis itu bersuara lirih, serak. Menahan segala emosi yang mungkin sudah sejak dulu ia tahan.

Tapi ia tetap diam, menoleh kearah gadis di sebelahnya. Gadis yang sesungguhnya bukan baru hari ini dia kenal. Gadis yang ia kenal cukup lama. Harusnya.

Tidak. Tidak.

Ia berusaha menyangkal dalam hatinya. Ia tidak peduli pada gadis itu. Ia cuma tidak tahan kekerasan bodoh terjadi di depan matanya. Apalagi aksi gerombolan gadis yang menindas seorang gadis.

Benar-benar berlagak. Memuakkan.

"Kau ini gila atau bodoh?", Sahutnya akhirnya. Ia memilih kembali menatap mentari terbenam di depannya, "Kenapa kau tidak pernah bisa melawan mereka? Disuruh-suruh seolah kau pesuruh mereka, ditindas begitu saja--"

"Aku memang pesuruh mereka 'kan?" gadis itu berbisik, menatap lurus mentari terbenam. Ia melirik gadis di sebelahnya. Tak disangkanya gadis itu menangis.

Perih. Rasanya jauh lebih perih dibanding luka dipipinya yang belum sempat terobati.

Ia ingin tidak peduli. Harusnya memang tidak peduli.

Tapi siapa sangka? Diam-diam ia selalu mengawasinya, berusaha membantunya tanpa diketahui, seperti menyelipkan sebatang lolipop dengan note kecil berisi semangat ke dalam tasnya, membereskan segala keusilan gerombolan gadis nakal yang berusaha mengganggu gadis itu sebelum jebakan itu sempat berhasil dan lain-lainnya. Belum pernah ia menampakkan diri begini sebagai usaha melindunginya, walau sesungguhnya sejak dulu ia ingin melindunginya.

Tapi tentu saja, rasa amarah itu kerap menghantuinya, amarah tanpa sebab yang sesungguhnya tidak ada sangkut pautnya dengan gadis itu. Amarah yang membuatnya harus keras-keras mengatakan tidak peduli.

Bagaimanapun juga gadis itu adalah adiknya. Sekalipun adik tiri, ia tetap adiknya. 

"Aku sudah berusaha berlari, tapi mereka mengejarku, seoalah aku tikus bodoh yang mudah tertangkap dan terjebak dalam permainan mereka", air matanya semakin deras mengalir, "Saat aku berusaha lari mereka mengejarku, saat aku berdiri tegak menentang mereka, mereka menindasku"

"Aku tidak tahu kenapa aku selemah itu.."

Hari semakin gelap, mereka masih diatas atap sekolah mereka. Sejak tadi hanya diam. Ia hanya membiarkan gadis itu meluapkan emosinya, berceloteh marah, menangis hingga berteriak sesuka hatinya sampai gadis itu kehabisan ide dan bersisa nafas yang tersengal-sengal. Air matanya kering, ia lelah, ingin pulang tapi tak sanggup melangkah.

Gadis itu tersentak, seseorang di sebelahnya. Lelaki yang tadi tiba-tiba menolongnya. Kakak tirinya sekarang malah bersiul. Gadis itu memejamkan matanya dan ia terhanyut.

"Kala kau merasa tak mampu berlari lagi..bahkan untuk berjalan pun tidak mungkin." Katanya setelah berhenti bersiul, "Terbanglah"

Ya, sudah tiba saatnya untuk dirinya memaafkan segalanya. Ia sendiri lelah lari dari masalah. Ayahnya menikah lagi bukan kesalahan. Sudah lama sejak meninggalnya Ibu, Ayahnya pasti kesepian. Ia merasa bodoh baru menyadarinya sekarang.

"Hei" Ia menepuk puncak kepala gadis itu, "Jika kau tidak tahu bagaimana caranya terbang, ingatlah aku. Aku akan jadi sayap pelindungmu yang akan membawamu terbang ke angkasa, membawa pergi segala keluh kesah"

Ia tersentak sendiri, sejak kapan ia bisa menyusun kata-kata seperti itu, tapi toh ia tersenyum kala gadis itu, adiknya membalas senyum dengan air matanya kembali mengalir.

"Kak"

"Mulai sekarang aku boleh memanggil kakak kan? Aku mohon"

Hatinya kembali tertohok, "Y-ya.."

Ia menyeka air matanya, senang.

"Hari sudah gelap. Ayo kita pulang.." Ia beranjak berdiri sembari mengulurkan tangannya agak kikuk. Ia tidak pernah berlaku sok manis begini walau ingin.

"Hei Tu-tunggu.. jangan turun dulu. Kau ingin merasakan terbang? Aku bisa menerbangkanmu saat ini juga"

"Eh? bohong sekali, Kakak kan tidak punya sayap"

Ia tertawa lalu membalikkan badannya, "Ayo.. aku gendong"

Gadis itu terkejut, ragu-ragu ia memeluk kakaknya dari belakang agar kakaknya bisa mengangkatnya. Gadis itu merasa bahagia di hati. Kakak yang dilihatnya dari dulu diam, hanya bersama saat di meja makan dan di dalam mobil saat berangkat dan pulang sekolah kini berlaku berbeda. Ia tidak perlu susah payah berpikir mengapa secepat itu berubah, yang ia tahu ia senang karena sekarang sosok kakak itu nyata.

Rasanya ia bisa menjalani hari esok. Berikutnya ia akan kembali berdiri tegak melawan dan keluar dari perangkap mereka. Tak perlu takut jatuh lagi, karena gadis itu sekarang percaya, bahwa akan selalu datang sayap yang melindunginya dan membawanya pergi melewati segala masalah.

"Terima kasih, Kak.." Gadis itu berbisik dalam gendongan, lalu tertidur di pungung kakaknya.

--------------------

Oke. Gaje. Lama baaaaanget gabikin beginian.Kecepetan alurnya, tapi udah buntu abis, keburu waktnya abis juga kan hehehe.

Lemme know if you read this one, thank you! .-.

Jumat, 28 Juni 2013

Lemon Tea [cerpen]

Aku meletakkan segelas lemon tea dingin yang baru saja aku minum. Lalu mengamati bulir-bulir airnya yang turun satu persatu di dinding gelas. Mendapati senyumku sendiri dari pantulan gelas walau sebenarnya tidak begitu jelas juga. Tapi toh aku beralih meraih pulpen yang tadi sudah kusiapkan dan mulai menulis lagi di noteku. Menuliskan segala hal yang ada di pikiran, segala hal yang ingin disampaikan tapi tidak pernah bisa.


Hahaha.

Hari ini aku minum Lemon Tea lagi. Dan aku jadi inget kamu (lagi). Alasannya sudah kuberitahu di surat-surat sebelumnya kan jadi aku tidak perlu menuliskannya lagi, hahaha. Kidding :p

Lalu berhenti, memandangi bulir-bulir air lain yang bersiap meluncur juga di dinding gelas, mendadak tersenyum. Masam.

Semalam aku menuntaskan kebiasaan baruku untuk membaca ulang chat-chat kita mulai dari awal kamu chat aku duluan, sampai terakhir kita chat di BBM. Ternyata sudah… tunggu, sekitar 1 tahun, 3 bulan, 11 hari sejak terakhir kita chat-chat-an.

Kamu apa kabar?

Sabtu, 19 Januari 2013

Let You Go [cerpen]

Belum pernah aku begini sebelumnya.

Sesuatu tiba-tiba saja terjadi. Sesuatu yang dengan mudahnya mengombang-ambingkan alat penunjuk arahku. Kedatangannya tanpa aba-aba seolah membuat hari-hariku mendung kelabu seketika sedangkan biasanya cerah ceria saja. Benar-benar irasional. Di luar akal, prediksi, ramalan apapun itu sebutannya.

Tidak mungkin kan?

Belum pernah aku begini sebelumnya.

Menyangkal segala pertanyaan atas kepekaannya, memaksa senyum atas segala banyolan garingnya adalah sesuatu yang mustahil terjadi. Tapi aku melakukannya. Akhir-akhir ini. Aku bahkan menghapus berkas-berkas namanya dalam pikiranku. Membersihkan segala jejaknya dalam setiap jengkal tubuhku, hanya untuk hari ini. Untuk seseorang yang saat ini duduk di depanku. Yang baru saja meminum sodanya. Kamu.

Aku tidak paham mengapa aku melakukan itu semua. Kemunculanmu dalam kehidupanku nyaris membuatku gila. Seminggu terlewati, dan siang ini kamu sudah berada di depan pagar rumahku. Membuatku yang masih bau asam dan rambut ala singa rimba melongo sekaligus mati gaya. Bahkan sampai akhirnya aku berada disini pun aku masih merasa belum sadar. Sungguh.

"Jadi apa kabar?" Tanyamu membuyarkan lamunanku.

Dan betapa satu pertanyaan pembuka paling wajar seperti itu membuatku gelagapan.

"Ba...ik kok. Kamu?"

"Sangat baik", yah dan lalu kamu tertawa begitu saja. Membuat pipiku menghangat entah mengapa. Mungkinkah cekungan dari kedua pipi itu alasannya? Toh aku tertawa kecil juga.

Lalu suasana mencair begitu saja. Kamu menenggelamkanku dalam pembicaraan, salah satu keahlianmu. Aku merasa diajak tour menyelami masa lalu. Dan aku sukses merindukan itu semua. Sangat rindu.


Jumat, 17 Agustus 2012

Light [cerpen]

Suara hak sepatu setinggi 7cm--baiklah ini hanya dugaanku--yang beradu dengan lantai membuatku spontan menoleh ke arah sumber suara. Ke arah tangga yang menghubungkan antara lantai bawah dengan lantai atas. Setelah mendapati bahwa sepasang couple baru saja datang, mataku kembali ke arah buku menu lalu mengangguk kecil sambil mengucapkan pesanan.

“Baik, satu Ice Lemon Tea, ditunggu ya, kak..”

Aku tersenyum saja kepada waitress itu. Beralih melihat handphone yang rasanya sepi sekali. Tidak ada pesan atau notifikasi apa-apa. Jadi aku meletakkannya lagi keatas meja.

Hampir semua pengunjung tempat makan ini adalah pasangan muda-mudi yang sepertinya sedang kencan. Lainnya adalah keluarga kecil yang sedang makan malam dan beberapa kelompok anak nongkrong gaul yang memilih tempat outdoor yang disediakan rumah makan ini. Jadi, cuma aku yang sendirian di tempat ini. Haha. Aku kembali menatap handphoneku yang sepertinya tidak ada perubahan. Bodoh sekali 'kan.

Sambil menunggu minumanku datang, aku sesungguhnya lebih tertarik melihat ke arah samping kiri. Jika aku menunduk kearah bawah, aku dapat melihat daerah outdoor tempat ini. Lalu teringat teman-teman SMA-ku dulu. Dulu--atau bahkan sekarang, kadang-kadang--aku juga seperti mereka, menghabiskan sore bersama teman-teman yang lain. Tapi jika kau melihatnya tepat dalam sudut 90 derajat. Kau akan melihat indahnya pemandangan, jalanan kota yang padat dan ramai dihiasi berbagai lampu dari gedung-gedung atau mobil-mobil di sekitarnya. Walau diatas tidak ada bintang. Tapi aku cukup senang hanya dengan kehadiran lampu-lampu kota ini.

Suasana malam dan indahnya lampu-lampu kota selalu mengingatkanku dengan kamu. Entah kenapa saat-saat bersama kamu selalu di dominasi dengan malam dan lampu kota.


Kamis, 28 Juni 2012

Three Points [part 2]

ini lanjutannya yang kemarin itu hehehe nikmati saja. mohon maaf atas kekurangan. *menghilang*


***



Jadi sekarang aku disini. menampakkan wajah yang sedang dihiasi senyum konyol karena baru saja menceritakan beberapa kejadian yang menurutku agak ajaib kepadanya. Si Amanda. Kalian ingat Amanda kan?

Aku baru saja bercerita tentang uhuk, Ardi ketika memberikan dekerku yang terjatuh seminggu yang lalu. Aku juga bercerita tentang anggukan Ardi ketika berpapasan denganku lima hari yang lalu. Lalu kejadian dimana kita bertemu di UKS dan masih banyak kejadian 'interaksi'-ku dengan Ardi yang entah kenapa menceriakan hari-hariku beberapa hari ini.

Sekarang aku menunggu respon Amanda yang...tampaknya kaget. Tapi perlahan aku menemukan senyum itu kemudian tawanya yang meledak seketika. Membuat jantungku berdetak grogi membayangkan tanggapan Amanda sebentar lagi.

"CIEEEEHHH....." dia mengacak-ngacak rambutku yang sedari tadi memang sudah berantakan, "tuh kan, apa ku bilang.. dia itu sudah mulai ngerasa, Tit. Jadi sekarang ceritanya pdkt-an gitu ya.."

Aku mengibaskan telapakku didepan mukanya, mengelak, "Nggak gitu juga sih.." jawabku dengan ekspresi kembali normal, "itu semua kan cuma kebetulan aja.. ternyata dia sering nonton pertandingan basket lho.."

"Hngg, ngeliatin pertandingan basket, karena ada kamunya kan? Ah! jangan-jangan dia juga suka sama kamu, Tit.."

Aku menggeleng. Sudah kubilang, didepannya aku tidak mudah termakan situasi. Walaupun se-sesuatu apapun hal yang aku rasakan pada Ardian sebisa mungkin aku harus menganggap itu hal yang wajar-wajar saja. Ya, walau sesekali lepas kendali juga sih. 

"Oh ya,  udah dari kemarin mau aku tanyain kelupaan terus. Kamu ternyata kenal ya, Da sama dia?"

"Hn? Dia? Ardi?" Tanyanya balik sembari tangannya sibuk membereskan buku-buku di mejanya, "em..nggak, kenapa emangnya Tit?"

Aku melipat bibir lalu meniup poniku sendiri dan mulai berdiri menggantungkan ransel, "Waktu yang pas dia ngasih tahu dekerku jatuh itu dia sempet nyebut nama kamu gitu nanyain tumben aku nggak bareng kamu.. aku kira kamu kenal.."

"Eh? Masa sih?" Amanda menggaruk pelipisnya, "jangan-jangan aku makin eksis Tit. Eeeeh atau jangan-jangan kamu jeles ya Tiiit?"

Aku memundurkan kepala, "Ngapaain? nggak. ngapain jeles coba" 

Lalu Amanda tertawa kecil sambil menggoda sekali lagi. Tapi aku diam saja. Beberapa hari ini sebenarnya aku mulai mempunyai pikiran aneh tentang Amanda. Mulai dari berkurangnya intensitas ia menggodaiku sampai lenyapnya informasi-informasi tentang Ardian yang biasanya selalu ia salurkan ke aku. Apa dia mulai bosan ya.

Eh, tapi kenapa juga aku jadi berharap Amanda menggodaiku. Aneh.


Rabu, 06 Juni 2012

Three Points [Part 1]

Aku memantul-mantulkan bola ditanganku beberapa kali kearah lantai. Suara dentumannya selalu membuat detak jantungku berdetak agak lebih cepat. Seolah beradu. Tapi aku selalu menikmati saat-saat seperti ini. Karena aku akan selalu menutup mataku, dan membiarkan pantulan suaranya menarik ujung-ujung bibirku membentuk sebuah lengkungan, dengan caranya yang magis.

Lalu, aku membuka mata. Dan menembak.

"prokprokprokprok.."

Suara tepuk tangan itu berhasil membuatku berpaling.

Dan ya, dia disana. Tersenyum manis, ceria memuja-muja hasil tembakanku barusan.

"Keren maksimal kamu Ta! Kamu tahu kan aku selalu bilang kayak ada aura yang berbeda setiap aku ngeliat kamu ngshoot bola, kayak.. nggh apa ya sesuatu yang berkarisma, asik, keren. Ahahaha, by the way ngapain sih latian sendirian? rajin amat.."

Aku tertawa, "hahaha, nggak apa.. lagi pengen aja" aku beranjak mengambil bolaku tadi yang menggelinding diujung sana.

Nama gadis itu Amanda. Teman sekelas yang baru benar-benar aku kenal semenjak dia secara tiba-tiba ingin duduk disampingku karena ia sedang terlibat masalah aneh dengan teman sebangkunya yang sebelumnya. Aku tidak keberatan karena memang bangku disebelahku jarang yang mengisi. Toh, ia duduk sebangku denganku sampai sekarang, sampai kita naik kelas. Entah memang karena jodoh atau apa aku juga tidak begitu mengerti.

Aku memiringkan kepalaku, sambil memantulkan bolaku dari bawah ring. Memperhatikan Amanda dari ujung kaki ke ujung kepala.

"Titaa ayo pulang, kamu masih mau latihan lagi? sampe jam berapaa?"

"Lagi males pulang, D-daa.."

Telingaku menangkap suara langkah kaki itu. Bukan, ini bukan suara sepatu kets yang beradu dengan lantai gor. Ini suara sepatu pantofel. Dan..

'dum dum dum'

Bolaku terlepas. Aku terkesiap, mataku mengedip-ngedip lambat seperti orang tolol melihat dia sudah berada didalam sini. Disusul salah satu temannya, dan temannya yang lain. Entah kenapa aku malah terdiam kikuk, lantas menggaruk-garuk telinga dengan ekspresi aneh.

"Ehhermm hemm hemm.. uhuk-uhuk, pantesan nggak mau pulang, orang ada Ar...."

"Amanda" aku menanggapinya datar, salah satu caraku untuk menutup mulutnya walau... kau tahu mendadak  jantungku berdetak lebih cepat, "Yaudah ayo kita pulang, udah sore.." Aku beranjak pergi memungut bolaku yang terlepas tadi serta membereskan tas dan handukku.


Kamis, 26 Januari 2012

Sorry [cerpen]

"Tadaimaaa..."

Mari meniup terompet! fyuh.. rasanya lega sekali bisa tiba di rumah. Hari ini adalah pertama kalinya aku pulang tidak terlalu sore di bulan Mei. Biasanya aku baru bisa on the way ke rumah paling cepat sebelum isya. Well, benar. Baru beranjak, bukan sudah mendarat di rumah. Hari ini memang tidak ada jadwal mengajar les, jadi setidaknya aku bisa beristirahat. Asal kau tahu saja bulan April-Mei dimana masa-masanya UAS adalah jadwal terpadatku.

Ibu menyambutku. Aku memeluknya sebentar sedikit meminta perhatian. Tidak lama kok, karena lima detik berikutnya aku sudah melepas pelukanku dan mendapat sapaan hangat plus bonus tepukan sayang di bahu.

"Tidak ada les ya?" aku menggeleng senang, "Ya sudah.. makan dulu sana"

Aku menggeleng lagi, "Nanti saja, Bu. Aku mau istirahat sebentar"

Ibu mengangguk mengizinkan, lalu aku bergegas ke kamar dan merebahkan seluruh tubuh beserta barang-barang bawaanku diatas kasur. Langit-langit kamarku yang berwarna langit. Sejuk sekali.

"Tumben sekali pulang jam segini"

Sebuah suara menyadarkanku, aku bangkit dari kasur lalu berdiri berkacak pinggang ke arahnya, si pemilik suara. Oh jangan sampai lupa! kau harus memasang senyum menyebalkan ke nona jutek yang satu ini.

"Kau terlihat tidak senang melihat kakakmu ini pulang cepat" Godaku.

"Biasa saja"

Tanggapnya cuek, membuatku justru geli sendiri. Entahlah, dia masih berkutat dengan komputer tabletnya. Jangan salah.. aku tahu sebenarnya dia penasaran mengapa aku bisa pulang lebih awal seperti sekarang.

"Nggak ada jadwal les, dan kakak memang membuatnya begitu. Kakak mau hari ini free, karena kakak mau merayakan sesuatu"

"Aku nggak nanya. Lagipula ini bukan yang pertama kali.. tahun lalu kakak juga pernah. merayakan sesuatu yang tidak jelas, berdoa kemudian bersenandung sendiri tanpa aku boleh tahu apa sebenernya yang kakak rayain" Seloyornya datar dan malas, masih menghadap layar.


"Demi apa, kamu ingat rupanya?" Responku sok kaget, haha. Dia menoleh ke arahku dengan bentuk mata setengah lingkaran. Lucu sekali! "Well, Well.. haha maaf..maaf.. memangnya kamu mau tahu?"

"Nggak"

Hahaha! kuberi tahu ya, kalau nada bicaranya sedikit menyentak seperti ini tandanya apapun yang ia ucapkan memiliki arti yang berlawan kata.

Aku mendongak kearahnya, tersenyum tipis, "Kakak cuma merayakan...masa lalu"

Nona jutek itu memandangku dengan alis naik sebelah.

Aku mengangguk.

"Cuma merayakan masa lalu" Aku tertawa kecil, "Eh, aku keluar bentar ya. Mau siap-siap hehehe.. nggak usah begitu tampangnya hahahaha"

Kesal, nona jutek itu menjulurkan lidah sebelum aku berhasil hilang di balik pintu. Tawa kecilku memudar dan aku mulai mengambil bahan-bahan yang sudah aku siapkan dari beberapa hari yang lalu.




Jumat, 16 Desember 2011

Di Balik Hujan [cerpen]

2011


Hari ini hujan mulai turun. Gadis yang sedang duduk di bangku halte  depan sekolahnya itu mengeratkan jaket serta kacamatanya, menunggu Ayahnya datang menjemput untuk pulang bersama ke rumah. Ini sudah ia jalani setiap hari semenjak awal sekolah menengah atas, alasannya karena sekolah dan tempat Ayahnya bekerja tidak terlalu jauh dan selisih antar jam pulang mereka hanya terpaut dua jam saja. ya, "hanya".. itu yang dikatakan Ayahnya. Gadis itu tetap setia menunggu sambil membisikkan doa agar hujan segera reda karena sesungguhnya ia tidak terlalu menyukai hujan.

Gadis itu merasa ada seseorang yang duduk di sampingnya, ia yang sedang menunduk menoleh ke arah kanan dan mendapati seseorang disana. Wajah yang sama sekali tidak asing. Lagi-lagi ia harus bertemu dengan pemuda itu di jam dan tempat yang sama. Dengan suasana yang sama pula. Tanpa kata.

Mungkin pemuda itu tidak pernah tahu bahwa gadis itu diam-diam suka mencuri lihat sosoknya. Suka membisikkan salam tanpa balas hanya untuk pemuda itu.

Mereka bukannya tidak saling kenal. Mereka tahu satu sama lain. Gadis itu tahu nama pemuda itu Gilang, Gilang pun tahu nama gadis itu Mela. Sekedar itu saja, itu pun karena Mela adalah sahabat dari salah satu teman sekelas Gilang yang paling sering menyambangi kelasnya. Yang Gilang tidak tahu adalah bahwa ada yang berubah dari Mela. Ada makna lain dari setiap tatapan matanya saat memperhatikan Gilang.

Toh, ia sendiri pun tidak punya cukup nyali untuk berbuat sesuatu agar mereka bisa lebih dekat. Karena Mela tahu seperti apa Gilang. Dan dia belum berani mencoba melelehkan pemuda dingin itu. Mela hanya sedang bertahan.


Sabtu, 15 Oktober 2011

Quiet [cerpen]

Hei! hahaha, lama yah saya nggak bikin cerpen eh aku gak tau juga sih ini bisa disebut cerpen atau nggak .__.
Abaikan judul diatas, sebenernya aku masih nggak tau harus ngasih judul apa ke cerita ini -_-". oh dan ya, saya peringatkan.. cerita ini.. geje like always -u-. begitulah.. (?)
i've warned you..

***

Aku mempercepat ketukan-ketukan yang aku ciptakan dari ujung-ujung jari keatas meja. mataku terpejam. pernafasanku sedikit lebih lemah dari biasanya. lidahku mengering. dan pendengaranku menajam.

satu. dua. tiga. empat.

Ah, untuk apa aku menghitung setiap detik yang aku biarkan berjalan lewat begitu saja?

Aku menghentakkan telapak tanganku begitu saja keatas meja kesal, sembari membuka mata, malas.

bosan. bosan. bosan.

aku benci situasi ini. aku benci keheningan ini. aku tak suka keadaan yang terlalu sunyi di ruangan persegi yang tak begitu luas. seperti kamarku ini. rasanya sama saja seperti dikurung walaupun tidak ada yang mengurungku.

Geje? Yah, memang.

Intinya keheningan selalu membuatku ingin menghilang dari tempat ini. di dalam keheningan aku dapat mendengar pikiranku dengan jelas. jelas sekali. di dalam keheningan itu alam bawah sadarku akan mengirimkan beratus-ratus lembaran-lembaran potret usang. tentangnya. tentangku. tentang kita.

Tidak bisa. Aku harus membunuh keheningan ini. Aku butuh lagu dengan beat cepat yang penuh semangat, yang mampu membuyarkan lembaran-lembaran tidak jelas yang melayang-layang kacang diatas kepalaku. jadi, aku raih ponselku dan mulai memilih-milih lagu apa yang akan aku putar. aku tak ingin lagu sendu. aku sedang malas mendengar lagu dalam negri. lagu hiphop, RnB, funk jazz, rock....

kenapa. kenapa. kenapa.

Kenapa semua lagu disini mendadak nampak membosankan di mataku? membuat telingaku menolak mentah-mentah untuk mendengarkannya.

Gawat. Gawat. Gawat.


Rabu, 17 Agustus 2011

Sayonara [cerpen]

Sayonara [cerpen]
Well, hai! Iya, aku abis bikin cerpen. Dan cerpen yang ini bisa dibilang (lagi) lanjutannya Lalu, Aku Mengerti dan Ya, Aku Terima .___.V. yaaah begitu dah. Sekuel yang kedua ini sama aja kok, sama-sama geje. Oke, yang mau baca monggo. ._.
***
Aku mengeratkan tas dibahu. Berjalan lurus dengan langkah pasti menuju ruang tunggu keberangkatan. Aku mengangguk seraya tersenyum tipis kearah bapak yang sedang bertugas saat tas-tasku berhasil lolos mesin pemeriksaan. Setelahnya, aku tenteng lagi tas-ku sembari menghela nafas cukup panjang. Kepalaku sedang mencari-cari, mencoba menemukan bangku kosong untuk aku duduk. Mataku menemukan dua bangku kosong di sebelah seorang wanita yang menurut perkiraanku berumur 30 tahunan.
Aku langkahkan kakiku menuju tempat itu. Wanita itu sedang sibuk dengan smart phonenya saat aku dengan basa-basi meminta izin duduk di sebelahnya. Tapi wanita itu segera menoleh, tersenyum seraya mengangguk mempersilahkan sebelum kembali menekuni smart phonenya. Aku merasa sedikit lega.
Sebentar lagi.
Sebentar lagi waktunya datang. Setelah ini semuanya akan baik-baik saja.
Aku menepuk tanganku pelan, memantapkan diri bahwa ini jalan yang terbaik. Ini juga adalah salah satu usahaku untuk menenangkan diri dari rasa gugup. Tentu saja aku gugup, ini adalah pertama kalinya aku menetapkan keputusan besar.
Aku melirik jam tanganku, rupanya masih ada 30 menit lagi sebelum pesawatnya datang. Ya, aku akan pergi. Pergi jauh dari Indonesia. Bukan, aku tidak sedang melarikan diri dari keluargaku seperti tragedi artis remaja fenomenal dua tahun yang lalu. Aku pergi untuk menuntut ilmu disana. Di negeri orang—
Negeri orang—dan rupanya mataku belum lepas dari pergelangan tanganku. Ya, walaupun fokusku sudah tidak kearah arloji lagi, melainkan kearah… benda lain yang melingkari pergelanganku. Aku merabanya, tersenyum kecut.
Gelang.
Ya. Gelang. Gelang itu.
“Taraaaaaaa!! Tunggu!”
“Mana tanganmu?? Sini deh… sudahlaah, sini…”
“Naaah, gelang ini dari aku. Kamu aku kasih ini karena kamu termasuk sahabat terbaik aku. Makasih ya, Ra buat selama ini! Hahahaha.. jangan sampai hilang! Langka tuh..”
Ya. Ini dari dia. Untuk aku. Karena aku. Sahabatnya. Begitu katanya.


Selasa, 09 Agustus 2011

Biru [cerpen]


Kawan, sebelumnya saya peringatin ya.. yang ini super gak jelas. Gak jelas gimana? Yaudah gitu pokoknya. 

Udah ya, saya udah meringatin lho, terserah mau baca atau nggak hehe :D.

***
Gadis berkuncir kuda itu berlari dengan tergesa-gesa seperti biasanya. Hampir setiap hari sepertinya ia harus bolak-balik berlari ke satu kelas ke kelas yang lain bila tidak ingin kehilangan menit-menit pertama dari klub-klub sekolah yang ia ikuti. Ya, dia bisa dibilang salah satunya yang paling bersemangat. Yang mengikuti lebih dari satu klub setiap harinya.

Gadis itu melirik benda berwarna merah yang melingkari pergelangan tangan kirinya lalu merutuk pelan mendapati masa dimulainya klub kedua—baginya—di hari ini sudah dimulai sejak sepuluh menit yang lalu bila sesuai jadwal. Gadis itu mencoba mempercepat lajunya.

Seperti suatu adegan yang sudah lazim, dengan tidak beruntung kakinya tersandung akar besar dari pohon Akasia yang bersebaran dan berdiri kokoh di taman—luas—sekolah itu.

Gadis itu mengerucutkan bibir. Ini bukan pertama kalinya ia terjatuh dengan posisi dan situasi dilihat orang banyak seperti ini, bahkan di tempat yang sama. Ia heran saja.. sebenarnya apa salah kakinya pada akar itu sehingga ia harus selalu tersandung di lokasi yang sama.

Gadis itu segera berdiri sambil menenteng kotak P3K-nya. Ia memilih berjalan pelan-pelan dulu sambil melihat sekeliling sebelum memulai berlari lagi. Dia pasrah bila harus terlambat mengikuti klub musik kesukaannya toh sekarang pun memang sudah terlambat.

Tunggu. Matanya menangkap pemandangan tidak asing. Kepulan asap dibalik salah satu pohon akasia. Ia segera berlari dan memergoki seorang pemuda di baliknya. Gadis itu melipat tangannya lalu mengangkat sebelah alisnya.

“Ngapain masih disini? Kau tak ikut klub? Ayo, kita sudah terlambaaat..” Seru gadis itu.
Pemuda berbadan bungkuk itu mendongak, menatap gadis itu dengan wajah tak berekspresi seperti biasa lalu beranjak mematikan  batang berbungkus putih di tangannya, kemudian memasukannya begitu saja ke dalam saku celana.

“Ikut aku” Kata pemuda itu yang sekarang pergi tanpa embel-embel menepuk pundak, atau menarik tangan dan sebagainya. Pergi begitu saja. Gadis itu menganga tidak percaya, ia segera berbalik dan menyusul pemuda itu sambil berteriak,

“Hei mau kemana?? Main-mainnya lain kali saja.. kita sudah terlambat hampir setengah jam lho! Heeiii…”
Pemuda itu tidak menyahut dan tetap berjalan dengan kaki panjang serta badan bungkuknya menuju tempat tujuannya. Toh gadis itu mengikutinya.

Mereka sampai di atap gedung sekolah. Angin disana membuat helai-helai poni rambut gadis itu menutupi sebelah matanya. Sedangkan pemuda itu malah membelakanginya dalam diam. Hanya dasi yang tampak sesekali melambai tertiup angin.

“Ada apa kau mengajakku kesini?” Tanya gadis itu.

Tak ada jawaban.

“Hei, aku tanya ada apa kau mengajakku kesini??”




Rabu, 22 Juni 2011

Ya, Aku Terima [cerpen]

Ya, Aku Terima [cerpen]

Hai sebelumnya aku mau bilang, kalo sebenernya cerpen ini bisa dibilang adalah lanjutan dari cerpen aku yang "Lalu, Aku Mengerti" ehhehehee.. .___. Jadi harap maklum kalau yang ini pun nggak kalah gejenya sama yang itu. XP.

***
“—Jadi gitu, Raa.. aku bingung buanget nget nget! Untung aku nyimpen nomer kamu, kalau nggak aku nggak tahu harus cerita ke siapa, rasanya otakku bakal meledak!!”
Alay, ha-ha-ha.
“Jadi gimana dong??”
Aku meletakkan pensilku, menghentikkan kegiatan menghitung sejumlah angka rumit dari paket berjudul ‘MATEMATIKA Untuk SMA’ dilengkapi huruf ‘XI’ besar di pojok kanan bawahnya. Handphoneku yang sengaja aku atur dalam mode loudspeaker aku dekatkan ke mulutku.
“Hmm, naksir udah dari kelas sembilan, niat mau ngelupain eeh malah ketemu di SMA. Parahnya kamu malah makin tenggelam akan pesonanya jauh lebih dalam lagi—“
“Tunggu. Pesona?? Kok kayaknya nggak banget gitu sih?”
“Laah, kan kamu sendiri tadi yang ngomong kayak gitu, Cha..”
“Iya siih. Iyaa! Iyaa! Haduuh aku heran banget deh, Raaa.. pengen rasanya aku teriak didepan muka dia—“
“Kamu kan sudah cukup lama nunggu. Aku rasa nggak ada salahnya kalau kamu ambil langkah duluan. Kamu SMP dulu temen baik? Atau temen deket gitu?”
“Eeh.. e-em.. lu-lumayan.. err ya, setidaknya mungkin dia masih ingat namaku..”
“Ya sudah, nggak pa-pa. SMA ini kamu jauhin dia kan? Coba aja kamu deketin dia, tapi deketin yang wajar lho yaa.. maksudnya cari kesempatan buat ngobrol-ngobrol sama dia gitu.. kan nggak harus jadi pacar langsung, semuanya bisa diawali dengan pertemanan. Yaa, setidaknya biar kamu bisa mengenal gimana sih, Reinald yang sebenarnya.. biar adil juga.. selama ini kan kamu yang ‘melihat’ dia.. sekarang coba tunjukin diri kamu biar dia juga bisa ‘melihat’ kamu lebih deket..”
‘tuk’
Eh? Aku barusan nyerocos nggak jelas ya? Aku baru sadar lho kalau aku tadi ngomong sambil menerawang. Tuk tuk tuk, aku memukuli dahiku sendiri dengan telunjuk.
Hening. Yang aku dengar Cuma suara hembusan nafas Icha yang semakin berat, “ngomong doang itu gampang, Ra. Ngelakuinnya? Susah!!”
‘BUG!’
Kena lo, Ra!.
Aku menggaruk pelipisku canggung, cengengesan sendiri lalu bersiap-siap mencoba membesarkan hati Icha, “Usaha dong.. dicoba.. semakin banyak kamu mencoba semakin besar hasil yang kamu harapin kamu dapat”
‘PROK-PROK-PROK’ ‘BUAAGG!’
Hiyaa! Aku nggak ngerti, tapi mendadak imajinasiku menciptakan dua makhluk aneh disekitar kepalaku. Ada Si Putih yang bertepuk tangan heboh dan ada Si Hitam yang sedang memukuli kepalaku sekuat tenaga. Dari mana mereka datangnyaa??. Aku menggeleng-geleng mencoba mengenyahkan mereka.
“Gitu ya, Ra?”
“Ha? I-iyaa.. yakin deh! Kamu pasti bisa. kalaupun emang gagal pasti kamu nggak akan sengenes sekarang yang Cuma menatap dia dari jauh, karena seenggaknya kamu sudah mencoba, setidaknya dia menganggapmu teman dan setidaknya lagi dia bisa melihat kamu. Nggak rugi-rugi amat kok. Pasti ntar ada sesuatu yang kamu dapetin entah itu sisi lain Reinald yang ternyata baru kamu tahu.. sisi jeleknya dia apapun itu. Iya kan?” Kataku pelan-pelan, mencoba meyakinkan “mumpung dia belom punya cewek lho, Cha” Lanjutku memanas-manasi.
“Wuaah kamu bener, Ra! Iya sih kalau dipikir-pikir emang bener. Iya! Bener! Bener! Aaa nggak tahu deh ya, tapi rasanya aku bisa dapetin dia. Iya! Aaa, gila! Seneng banget..” Aku ketawa cengo’ “Aaa, thanks Taraaa.. aah I love you! Love you!
Aku mengerjap kaget, reflek kujauhkan handphone dari mulutku. Lalu tersenyum. Geli sendiri, “Haha, iya sama-sama.. love you too.. good luck, ya!”
“Iyaa.. yaudah kalau begitu.. aku mau beres-beres buku dulu deh! Dadaaah Taraa”
“Daaah, Cha”
Aku mengangkat bahu. Memaklumi. Setelah memutuskan telepon aku lempar Handphoneku yang sekarang telah mendarat dengan tidak terlalu mulus diatas kasur. Masalah Icha sementaraaa.. kelar! Tinggal si matematika niih, heuu. Aku sambar lagi pensilku dan mengajaknya berkolaborasi lagi dengan otakku.
“Whoaah.. Tara hebat euy! Bisa bikin si Icha semangat lagi lho!”
Hng?. Aku lirik bahu kananku. Ada makhluk berwarna putih yang baru saja bersuara dan sedang tersenyum sekarang.
“Ah, munafik lah dia. Sama Icha aja dia bisa bilang begitu, tapi dia nggak nerapin ke kehidupan dia sendiri.. padahal kan storynya hampir sama tuh..”
Aku menoleh cepat ke bahu kiriku, ada Si Hitam yang baru saja menyahut dengan tampang mengejek. Sekarang Si Putih tidak mau kalah, dia berargumen dengan maksud membelaku tapi Si Hitam juga tidak mau mengalah dia malah makin menjadi-jadi menyindir dan mengejekku. Semua ucapan itu seolah menamparku habis-habisan.
Akhirnya dua makhluk yang nggak jelas asal-usulnya itu malah bertengkar sendiri diatas masing-masing bahuku. Aku mulai pusing. Geram sendiri.
“Haaaah! Berisik! Bodo lah, aku belum ngerjain PR Mat tauuuk, bisa diem gak?!”
‘tik’ ‘tik’ ‘tik’
Aku bisa mendengar bunyi detik jam dinding kamarku. Aku bisa merasakan nafasku tersengal-sengal. Dan saat aku lihat lagi sudah tidak ada makhluk aneh di bahu kanan-kiriku.
Lalu. Saya. Bengong.
Halusinasi!! Hahaha, mana ada makhluk pengadu domba seperti itu hahaha. Saya melupakannya! Saya tidak akan mengingatnya. Yang saya tahu saya harus segera menyelesaikan PR Matematikan ini.

Kamis, 09 Juni 2011

Dreams (The Old Friend) [cerpen]

Langit sedang menyajikan lukisan alam dengan semburat jingga khasNya. Memayungi dua anak-anak berumur sekitar enam tahunan yang baru saja menuntaskan aktifitasnya, entah apa. Yang jelas sekarang bocah laki-laki berambut panjang-untuk ukuran laki-laki itu sedang merengut dan memeluk skateboardnya kuat-kuat, sedangkan gadis kecil seusia dengannya tidak berhenti berceloteh sambil sesekali memukul anak laki-laki itu dengan dahan-ranting pohon yang dia temukan tidak sengaja tadi, bila ia mendapati lawan bicaranya ini tidak menanggapinya.

"Kamu sih Ray, tadi pake nyolot sama mas-masnya. coba kalau kamu tadi nggak teriak pasti kita nggak bakal ketahuan, coba kamu tadi nggak usah sok-sokan nantangin mereka main skateboard tuuuh akhirnya jatoh kaaan.. kalau nggak bisa itu nggak usah belagu, Raay.."

"Bawel lah, Cha. mau gimana lagi, abisnya Kak Rio Kak Alvin sama Kak Iel tadi hebat banget bisa lompat kayak gitu.. spontan, Chaaa..."

"Okedeh ya soal teriaknya aku ngerti, nantanginnya itu lhoo.. haduuh!" Acha menepuk keningnya keras lantas menggeleng-geleng.

"Bawel, ah! lagian daripada ngomel, mukul punggung aku kerepmu dhewe ambek iku mending obatin nih.. niihh.. luka aku. kamu kan cewek!" Cibir Ray sembari menunjukkan siku dan lututnya yang memang luka cukup besar.

Acha menelan ludah saat melihat luka Ray lamat-lamat lalu bergidik sendiri, "Hiii.. itu nggak sakit apa Ray? hiii.. jorok ah kamu.." Acha memukul-mukul dahannya ke aspal.

Ray mencibir lagi, "Yee, katanya ngaku cewek.. ngobatin gini aja nggak bisa huu"

"Aku kan tomboy, Raay.." Sahut Acha protes.

"Naah, katanya cewek tomboy tapi lihat luka gini aja udah jijik setengah mati kayak liat orang muntah di mangkok bakso. kalo gini mah, kamu mainnya sama anak macem Ify tuuh, main Barbie!"

Acha mengerucutkan bibirnya, "Aku nggak mau main Barbie sama Ify!" katanya yakin sambil mengamati matahari didepan mereka yang sebentar lagi pulang ke peraduannya,"aku kan maunya main sama kamu.."

"Eh?" Ray menoleh memandang gadis kecil yang lebih pendek darinya ini bingung.

Dia tahu. Acha adalah gadis kecil paling ajaib di komplek ini. Satu-satunya cewek yang lebih suka bermain diluar dengan kawan-kawannya seperti Ozy,Deva daripada bermain Barbie bersama gadis kecil lain seperti Ify,Keke dan Sivia. Tapi dia belum pernah mendengar Acha bilang hanya ingin bermain dengannya.

"Kenapa? Nggak boleh?" Tanya Acha galak. Ray tertawa ,lalu beralih menenteng skateboardnya saja.

"Nggak apa-apa laah.." Ray tersenyum.

Acha menghela nafas "Lagian aku bingung. emangnya salah kalau aku lebih suka hujan-hujanan sambil main becek sama kamu daripada main masak-masakan didalem rumah kalau lagi hujan, lebih suka nonton Naruto sama Ben 10 daripada Barbie?" Oceh Acha, "aku tuh kesel sama Ify. dia suka ngejek aku aneh laah, cewek jadi-jadian lah, jorok, kotor, eerggh. lagian apa asiknya sih nyisir-nyisir rambut Barbie yang uban semua gitu?"

Ray tertawa lagi, "Pirang kali, Chaa bukan uban"

"Yaah itulah, apapun itu. pirang-pirang dino gak keramas"

"Hahahahaa.. Achaa-Achaa. Tenang, yang penting kita bisa main sama-sama. kita kan teman.." Hibur Ray.

"Kau benar!" Seru Acha.

"Raissaaaa sayaaangg.. ya ampuun darimana aja sih sampe gelap ginii??"

Ibu Acha berteriak dari rumahnya. Acha membelalak lalu membuang dahan temuannya begitu saja. Ray menahan tawa karena ia tahu Ibu Acha agak menentang pribadi Acha yaaang, tomboy-menurutnya.

"Aaa, mati koon.." Seru Acha pelan "Eee, aku duluan deh. dadaaaah Raaayy. besok main lagi yaaa?!" Acha berteriak dan mulai berlari.

"Iyaaaa.." Balasnya melambai sebelum akhirnya berbelok ke kanan menuju blok rumahnya.

 ***

"Lho, Ray. kok nggak belok kiri? Lho lhoo Raaayy!!"

"Nggak, Chaa. aku nggak bakal kesana lagi. ate dideleh endi mukaku kalau ketahuan lagi ngintipin mereka latihan.."

"Yaah, trus gimana? Kenapa sekarang nggak coba minta ajarin mas-masnya aja?"

"Haaa? nggak laah, waktu itu kan aku  sok nantangin mereka, jatoh didepan mereka pula. nggak bakaaal walaupun mas-masnya baik sekalipunn.."

"Yeee, lagiaaan.." cibir Acha, "trus sekarang mau kemana?" lanjutnya bertanya sembari menyejajarkan langkahnya dengan Ray.

"Akuu.. nemu tempat yang menarik! tersembunyi! deket lapangan basket do Blok G itu lhoo.."

"Emm?. aku nggak pernah kesana.."

"Laah katanya sering main di luar rumah, tapi nggak pernah kesanaa.."

"Emang kamu sering ke sana Ray?"

"Eee, baru dua kali sih beberapa hari yang lalu sama mas Riko. hahaha.." Seringainya, membuat Acha menepuk keningnya heran.

Mereka sudah tiba di sebuah lapangan basket. sepi siang ini. Ada satu pohon rindang yang besaaar sekali. Ray berseru senang sembari munenjuk keatas pohon. Saat Acha mendongak ia mendapati rumah pohon diatas sana.

"Waah! Ayo kita manjat, Ray! aku mau ke sanaa.." Acha sudah bersiap-siap memanjat balok-balok kayu yang menempel di batang pohon itu.

"Heeei.. Acha tunggu dulu. iya tahu kamu emang jago urusan manjat tapi jangan asal nyelonong doong.. pelan-pelaan.." Peringatan Ray.

"Ah, kamu udah kayak Ibu aja. tenaang kayunya kuat kook!"

Ray berdecak pasrah lalu mengikuti jejak Acha memanjati balok-balok kayu itu.

Rumah pohon tidak begitu luas. Tapi cukup nyaman untuk anak-anak seukuran Ray dan Acha. Setelah puas berdecak kagum melihat pemandangan komplek dari atas rumah pohon ini mereka berdua duduk di ambang pintu rumah pohon bersama angin sejuk  yang beradu dengan panasnya matahari.

"Trus ngomong-ngomong tumben akhir-akhir ini gak nenteng skateboard kamu itu? kemana tuh? rusak?" Tanya Acha.

"Nggak. Ada kok, aku taruh di rumah aja.."

"Lah, nggak mau latihan? Belajar disini aja yok kan sepi, enak deh kayaknya. yuk balik ke rumah kamu ambil skate yuk!" Ajak Acha bersemangat.

"Nggak, ah.. aku udah nggak mau main skate lagi.."

"Eeeh? kenapa? katanya cita-cita kamu pengen jadi pemain skateboard terhebat di duniaa melebihi mas-mas di komplek D itu. bahkan katanya mau ngalahin.... Tomiii.. siapa? yang orang barat itu, Ray?"

"Toni Hawk!"

"Yeah! itu lah. apapun itu, laah sekarang kook.. masaa' cuma gara-gara jatoh udah putus asa sih.."

"Hhh, bukan gituu.. kemarin Mas Rio dibeliin Drum sama Ayah, trus waktu aku nyoba kayaknya seru mukul-mukul gitu.. Mas Riko udah jamji mau ajarin akuu jugaaa.. lagian kalo main drum kan resiko jatohnya kecil banget. eeh kapan-kapan kamu harus lihat drum di rumahku, Chaa. gedeee banget!"

"Hng?"

"Haa? kamu kenapa, Cha? kok gitu reaksinya? cegek caak.."

"Nggak apa sih. emang kalo jadi pemain drum nggak bakal kena luka lecet ya?"

"Haaaa?? emm. aku rasa nggak.. kan kalo main drum duduk, palingan kalo tangannya kepukul stik atau kena kuning-kuningnya itu apa namanyaa.. sim-sim apa gitu." Pikir Ray.

"Yaaah, percuma doong.."

"Percuma? Maksudnya? kamu seneng ya kalo aku luka-luka kayak kemaren? ini aja belom sembuh.."

Acha merengut. Bukan begitu maksudnya. Sebenarnya sejak ia melihat luka Ray beberapa hari kemarin, begitu pulang ia bertanya pada ibunya. Apakah menjadi seorang suster itu berarti membantu orang yang luka-luka? lalu apakah boleh ia bercita-cita menjadi seorang suster?. Tentu saja Ibu Acha menanggapi positif. Gadisnya yang tomboy ini mau jadi suster. keajaiban, eh?.

Toh sebenarnya tujuan utamany menjadi suster adalah agar bisa mengobati luka-luka Ray. Jadi dia bisa semakin dekat dengan Ray. Tapii, yaah mau bagaikmana lagi. Bukankah kata ibunya seorang suster itu adalah pekerjaan yang amat mulia?--walau Acha sendiri masih ragu dengan arti mulia tapi kedengarannya hebat,pikir Acha.

"Cha!"

"Ha!" Teriak Acha kaget.

"Malah ngelamun, kamu kenapa sih?"

"Nggak, anu. Aku sekarang sudah punya cita-cita, hehehe.."

"Waah? beneran? Apa, Cha cita-cita kamu?"

"Aku.. pengen jadi suster, Ray. Suster hebat yang bisa menolong orang banyaaakk banget. Yang kayak di TV-TV, Ray.. keren kan?"

"Ha? Acha? Jadi suster? Hahahahahaha.. kesurupan apa kamu.. orang lihat borok aja jijik.. gimana mau ngobatin? hahaha..."

"Ya makanyaa dilatih biar terbiasaa.. pokoknya kalau udah gedhe harus jadi suster. ya! harus jadi suster!" Teriak Acha.

"Hmm, ya ya.. semoga tercapai ntar aku jadi dokternya deeh.." Sahut Ray setengah bercanda, karena sebenarnya ia masih belum yakin dengan cita-cita Acha.

"Yeee, malah gitu sih, gak serius ah, Ray.." Acha mendorong pundak Ray kesal, "Oh iyaa.. ada satu lagi lhoo cita-cita aku.."

"Oh ya? apa lagi?"

"Emmm, kamu jadi pacar aku!"

"Haaaah?? paa.. car?"

"Iya! Hahaha, tapi nggak sekarang deh Ray ntar aja kalo udah gedhe kamu harus jadi pacar aku, oke?"

"Aaah, kenapa harus jadi pacar sih? kamu mulai suka nonton Barbie ya?"

"Hee, kata siapa deh? nggak lah apaan Barbie hiii. emang kenapa kalo jadi pacar?"

"Punya pacar itu ribet tauu, lihat aja Mas Riko yang harus nabung buat beli ini lah, itu lah buat ceweknya.. yang setiap malem harus nyempet-nyempetin nelpon ceweknya laah.. apa lah.. ribet banget tauu nggak seru!

"Yaaah..." Acha sedikit kecewa, "yaudah deh jadi temn aja! Tapi aku masih berharap kalau udah gedhe udah jadi suster aku bisa pacaran trus nikah sama kamu. Keren deh Ray, Pemain drum hebat dan Suster Hebat!"

"Hahahaha, terserahlah, asala jangan sama suster ngesot aja!"

"Raaay.. suster hebaaat bukan ngesoott.."

Ya,ya,ya. Bermimpilah. Bermimpilah sesuka hatimu. Selama bermimpi itu tak berbatas. Selama mimpi itu tidak memerlukan biaya. Dan selama masih ada waktu yang tersisa, Gantunglah semua itu setinggi mungkin, lalu raihlah.

***

Ray menguap saat Riko membangunkannya. Dalam keadaan masih setengah sadar ia tidak bisa mencerna dengan baik apa yang diomelkan kakak sulungnya itu. Yang ia tangkap hanya nama 'Acha' dan kata-kata 'cepetan keluar'.

Dengan muka bantal Ray mengucek-ngucek matanya. Ah, pasti Acha mau ngajakin tanding sepak bola sama anak komplek sebelah. Itu sudah menjadi rutinitas mereka bersama setiap hari minggu. Tapi kan tidak perlu sepagi ini.

"Masih ntar jam sembilan, Chaa tandingnya ngapain pagi-pa-"

Ray membelalak. Mulutnya ternganga. Yang ia lihat di ambang pintu rumahnya adalah Acha yang sudah berpakaian rapi. terlalu rapi. Kaos yang dilapisi jaket dengan jeans panjang lengkap dengan sepatu dan ransel sekolahnya. Dan. Menangis. Hei Acha menangis, mukanya merah sekali karena menangis.

"Lho, A-Acha kenapa nangis? hei, kamu mau kemana? kamu nggak mau main bola dengan baju kayak gitu kan?" Tanya Ray panik. Acha menghapus air matanya dan terlihat susah payah sekali berbicara.

"A-aku, mau ke Jakarta. A-a-ayah pindah kerja d-dida-naaa.." Lalu dia menangis lagi. Ray seolah tidak percaya, ia langsung melihat keluar sana lewat jendela. diluar sana ada Ibunya dan Ibu Acha yang sedang mengobrol, lalu kedua wanita itu beralih menoleh ke arah Ray. tersenyum dengan maksud yang tidak dimengerti oleh Ray.

"Hai, Ray. Terima kasih ya.. sudah sering mengajak Raissa main.." Ibu Acha menghampiri anaknya lalu menepuk puncak kepala Ray perlahan "Raissa sedih sekali katanya tidak bisa bermain dengan Ray lagi.." Ibu Acha tersenyum, tapi Ray benar-benar tidak mengerti kenapa beliau harus tersenyum sedangkan Acha menangis sampai seperti itu. Tangan Ray mengepal, bahunya bergetar.

"Gimana, udah dulu ya, sayang? yuk kita berangkat sekarang.." Ajak Ibu Acha ke anaknya lalu beranjak pamit ke Ibu Ray. Ray tidak bisa berkata apa-apa. Ia cuma bisa memandangi Acha yang terlihat berusaha sekali menghentikan tangisnya dengan tarikan nafas yang sesak itu.

Lalu terjadilah perpisahan itu. Acha digandeng ibunya keluar, dan Ray tetap tidak berkutik. Acha menoleh sekali lagi dan berucap, "Raaay..." dengan suara serak. Dan sekarang, gadis kecil itu sudah menghilang dibalik pagar.

Ray merasakan kepalanya ditepuk-tepuk seseorang. Riko. Tersenyum masam, berbanding terbalik dengan Ray yang mulai menangis. Ia tahu Acha bukan lah satu-satunya teman bermainnya, tapi baginya hanya Acha lah teman yang paling mengerti dia yang mau menemaninya kemana saja. Dan ia.. kehilangan itu sekarang.

***

Ray mengerutkan dahi dibalik helmnya saat menyadari ada mobil asing di depan rumahnya. Saat sepeda motornya telah memasuki garasi rumahnya baru lah ia mengerti bahwa ada tamu di rumahnya. Dengan acuh ia melepas helmnya dan ingin masuk ke dalam rumah lewat pintu garasi saja agar tidak mengganggu.

"Raaay!" Ibu Ray memanggil spontan Ray memundurkan setengah tubuhnya yang sudah memasuki garasi.

"Dalem, Bu?"

"Sini masuk lewat sini ajaa.. kasih salam sama tetangga lama.."

Tetangga lama?, gumamnya lalu mengangkat bahu dan mulai masuk. Di dalam ia melihat sepasang suami-istri yang seusia dengan orang tuanya. Ray mengangguk dan tersenyum sopan lalu menjabat tangan mereka.

"Ray? Kamu sudah besar ya sekarang.. ganteng lho.." Takjub si Ibu. Ray hanya tersenyum garing. Ia memang merasa wajah ibu ini tidak asing, tapi ia benar-benar tidak ingat pasangan itu tetangganya yang mana.

"Oh iya, anak kamu itu namanya siapa, Bu?"

"Oh, Raissa.."

"Iya, Raissa, Raissa kemana ya tadi?"

"Nggak tahu juga katanya mau muter-muter di sekitar sini, kangen katanya.."

"Samperin Ray.. kamu kan dulu sering main sama Raissa.."

"Hn? Raissa?" Guman Ray, seingatnya ia tidak pernah punya teman bernama 'Raissa'. Ray cuma mengangguk-angguk saja tidak terlalu berniat mengingat-ingat siapa itu Raissa-Raissa yang disebut ibunya tadi. Palingan juga teman-teman main Ify, Keke atau Sivia.

Tapi bukannya Ibunya tadi bilang, sering bermain bersamanya?.

"Surabaya sekarang berubah ya, Bu..".

Ray berdiri dengan mati gaya disana sedangkan bapak-bapak dan ibu-ibu itu sudah kembali larut dengan topik masing-masing. Merasa tidak diperlukan lagi Ray memutuskan keluar saja. Mungkin saja ia bisa bertemu dengan Raissa dan bisa kembali mengingatnya.

Matahari hampir terbenam, membuat aspal tidak segelap aslinya akibat pantulan sinar  matahari. Ray meregangkan tubuhnya lelah setelah pulang latihan bersama grup bandnya. Ia lalu mematahkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Berhenti disitu. Di sebelah kiri.

Ia mendapati seorang gadis cantik berambut ikal yang sedang memandanginya dengan mulut ternganga.

"Ray?" Panggilnya masih ragu.

Suara itu. Mengingatkannya pada kisah lama. Entah bagaimana caranya, lalu dipandangan Ray tubuh gadis itu bisa menyusut setinggi anak berumur enam tahun dengan kaos kotor, jeans sobek-sobek selutut dan tawa riangnya. Lalu mendadak gadis kecil itu kembali menjadi gadis cantik berpakaian dress berwarna peach selutut dengan sepatu sneakers pitih melapisi kakinya.

"Kamu bener Ray, kan?"

"Iya. kamuu.. Raissa?"

Ia mengangguk lalu tersenyum amat senang nyaris menangis bahagia dan berlari berangsur memeluk Ray, mengabaikan keterpanaan Ray yang sebenernya masih belum ingat sepenuhnya tentang gadis ini. Tapi lalu ia mendapatkan sesuatu, saat gadis ini sudah berada dalam pelukannya.

"Lama sekalii kita tak bertemuu.. kamu kok nggak tinggi-tinggi sih Raaay.. masa' daridulu tingginya seaku mulu. Itu rambut juga tahan banget gondrong, potong dong Ray biar rapi, hahaha.. aku seneng banget bisa ketemu kamu lagi setelah.. delapan, sembilang, sepuluh... sebelas tahun! ya ampuun.." Raissa melepas pelukannya.

"Sebelumnya maaf ya, Raissa.. aku, nggak begitu ingat sama kamu"

'deg'

Senyum Raissa-atau Acha memudar. Pandangannya kembali melebar, merasa malu. Malu karena ia baru saja memeluk orang yang ternyata tidak mengingatnya. Ia juga kecewa, kecewa karena bahkan dirinya belum lupa apa pun tentang kenangannya bersama Ray. Haha, iya ya.. siapa juga yang mau mengingat orang yang tiba-tiba pergi begitu saja.

"Kamu.. lupa sama aku?" Tanya Acha lirih.

Ray mengangkat sebelah alisnya, "Ya, aku tidak bisa mengingat dengan jelas masa kecilku hehe. memangnya duku kita teman apa?"

Teman apa?. Hahaha, teman apa?. Acha berusaha tersenyum hampir tertawa sebenarnya tapi ia tahan itu. takut tawa itu terdengar kering. "A-aku Acha Ray. Temen TK samapi SD kamu.. yaah samapai kelas satu aja sih.." Acha menarik nafas mencoba mengumpulkan kekuatan, "dulu kita sering ngintipin mas Rio mas Alvin, mas Iel main skateboard... karena kamu dulu hoby main skate. dulu setiap minggu kita suka tanding bola sama komplek sebelah.. dulu kita suka hujan-" Acha menghentikkan monolognya.

"Sudahlah hahaha.. nggak perlu diinget lagi kayaknya kamu bener-bener lupa. iyalah sebelas tahun lhoo.. haha" Tawa Acha, ia mengusap matanya yang basah. buat apa menangis di depan orang yang melupakannya. ia menunduk malu. mendadak suasana terasa amat canggung.

"Bercanda"

Acha tertawa masih memandang tanah yang ia pijak.

"Hahhaha.. gimana bisa aku lupa sama kamu"

Acha mendongak dan sudah mendapatjan pelukan Ray. Acha tidak mengerti harus tertawa atau bagaimana, ia melepas pelukan Ray pelan, "Kamu bohong kan? kamu pasti udah lupa sama aku. nggak apa lagi nggak usah terpaksa bohong gini.."

"Bodoh. Aku cuma kaget.." Kata Ray "Acha yang dulu aku kenal kan pendek segini. kulitnya lebih item karena kebanyakan main bola hahaha. bajunya juga kaos oblong sama jeans selutut kemerdekaan kamu plus sandal gambar naruto kesayangan.. bukan yang pake dress gini, hahahaha..."

Acha menganga tidak percaya ia senang ternyata Ray masih mengingatnya tapi, "Ooh. jadi maksud kamu aku udah berubah gitu? Enak ajaa.. aku masih Acha yang dulu tauu. buktinya aku tetep gak suka sama barbie!" Galak Acha.

Lalu keduanya tertawa.

"Nggak nyangka kita bakal ketemu lagi.." Kata Ray saat mereka sudah duduk di bangku bambu depan rumah Ray.

"Aku yang minta liburan ke sini.. selama ini Ayah nggak izinin, ibu kan juga buka usaha di jakarta jadi nggak bisa ditinggalin.. tapi kali ini aku yang maksa, hehe. abisnya mau cari kamu di facebook pun.. aku lupa nama lengkap kamu, hahahha.."

"Sialan, haha. aku malah lupa sama sekali kalau nama kamu itu Raissa, hahaha.."

Lalu keduanya saling menanyakan mimpi masa kecil mereka dulu waktu masih kecil. Ray bercerita bahwa dirinya sudah memiliki grup bandnya sendiri dan sering manggung didalam kota. ia pribadi dilatih oleh mantan drummer dari grup band fenomenal asal Surabaya.

Acha? Acha sendiri benar-benar berusaha mewujudkan impiannya menjadi seorang suster hebat. dia sudah di terima di fakultas keperawatan dan mengaku nggak takut lagi sama luka separah apa pun, dia sudah mahir mengatasinya karena bimbingan PMR selama SMP dan SMA.

Ray dan Acha menghela nafas panjang. sama berpikir untuk topik pembicaraan selanjutnya. tapi.. entahlah tiba-tiba saja Ray tersenyum lalu bertanya dengan ragu ke Acha.

"Ngomong-ngomong kamu udah punya.... cowok belom, Cha?"

"Haa? hahahaha, belom. kamu sendiri?"

"Belom juga, hahaha jiaah jomblo ngenes dong ya.." Tawa Ray, disambut gelak Acha juga, "Oh ya, emangnya kamu masih pengen jadi pacar aku nggak sih, Cha?"

Acha tersedak air ludahnya sendiri. Terbatuk-batuk hingga Ray menahan tawa.

"Itu kaaan dulu aku masih kecil, Ray.. nggak ngerti apa-apa.. kenapa yang itu kau ingat juga siih.."

"lho, hahahaha.. memangnya kalau kita beneran pacaran kamu nggak mau ya?"

Acha membelalak. antara kaget dan tidak percaya. entahlah pipinya mendadak menghangat. ya, dia tersipu. untung saja lngit merah ini mampu mengkamuflase pipinya yang sekarang merona. semerah senja, ia menunduk salah tingkah, dan Ray pun mendadak merasa kikuk.

Biarlah mereka berdua yang menjawab masalah ini.

Nyanyian burung di sore hari turut menemani dua muda-mudi yang akhirnya bertemu setelah sekian lama. Sama-sama masih menggenggam kenangan mereka bersama. Sama-sama sedang berlari mengejar mimpi yang pernah mereka lontarkan bersama.

Karena ada seseorang yang bilang...

"Ya, bermimpilah. Tapi setelah bangun jangan tidur dan bermimpi lagi. bangun dan kejarlah mimpimu.."- Anggun C Sasmi.

-end-

eyaaakk!! aahh!! ini cerpen gagaaaall.. ga nyambung blass _0_ aneh, garing, kaku, belibet segala macem.
maaf udah lama nggak bikin cerpeenn... :((

cerpen ini saya persembahkan untuk Kak acie dan Tata (bukan Tata saya yaaa..). maaf kalau diluar ekspektasi :(

buat kalian yang nggak sengaja baca, terima kasih atas waktunya, mohon tinggalkan kritik dan saran kalian di kolom komentar, terima kasih. ^^

-GentaRP-

Jumat, 29 April 2011

Lalu, Aku Mengerti [cerpen]

Lalu, Aku Mengerti [cerpen]

WARNING: Ini sebenarnya cerita gaje yang tercipta saat belajar Bahasa Inggris untuk UNAS besoknya. Jadi harap maklum kalau semrawut -__-.
Karena cerita ini pun tercipta kilat selama 2 jam. J
***
Aku bisa mendengar derap sepatunya yang tegesa-gesa mencapai pintu kelas. Dan tentu saja. Detik berikutnya wajah yang selalu nampak kacau dipagi awal pelajaran ini terlihat. Membuat Pak Suto yang sedang berorasi dengan enggan mengatupkan bibirnya dan menolehkan kepalanya ke arah pintu kelas. Begitu juga yang lainnya. Tentu saja aku pun.
Setelah Pak Suto mempersilahkannya masuk kelas dan menyuruhnya segera duduk,—walau dengan raut kesal—beliau kembali berkicau. Dengan santai dia berjalan menuju bangkunya dan melewatiku. Aku mencoba tidak melihatnya. Tolong. Walau sebenarnya aku malas melihat wajah killer Pak Suto tapi kurasa itu lebih baik, hanya agar jantungku tidak berdegup lebih cepat.
Dan. Baik. Mungkin mataku berhasil mengabaikannya, tetapi indra penciumanku semakin bekerja ekstra, membuatku dapat menghirup bau parfume khasnya. Aku menunduk, merutuk dalam hati.
 “Ah, ini kapan selesainya sih, Pak Suto ceramah. Nggak berubah yaaa”
Sarah teman sebangkuku mulai berdemo dengan suara paling minim. Aku menoleh kearahnya. Tersenyum. Maaf Sarah, aku bukan tersenyum karenamu kali ini. Alasan itu ada tak jauh dari kita. Di belakang sana.
Pak Suto masih saja bersemangat memotivasi murid-muridnya. Menurutnya, memotivasi murid-murid lebih baik daripada memulai pelajaran penjaskes yang diajarnya. Yaa,yaa.. siapa yang bisa mencegahnya bila sudah begini? Kecuali bunyi—
‘KRIIIINGG’
—nah, bel penyelamat itu berdering juga.
“Baiklah kalau begitu, ingat fokus ya, nak” Nasehatnya sebagai penutup, dan ini belum berakhir “Sekarang kita mulai pelajarannya. Buka halaman 46..”
Dengan mood yang sudah terkuras habis ini, anak-anak membuka buku dengan malas.
“Kerjakan itu latihan dua, tentang Basket, jawabannya ditulis di kertas, bel bunyi kumpulkan ke saya” Spontan aku melebarkan mataku.
“Lho, Paak! Kan belum sempet diterangin?” Protes salah satu temanku.
“Kalian baca sendiri saja, lagipula kalian kan sudah sering praktek pasti mudah..” Kata Pak Suto tanpa rasa bersalah berhasil menghabiskan satu jam pelajarannya dengan motivasi-motivasi itu “Sudah, cepat kalian kerjakan, tanpa suara!” Perintah Pak Suto lagi saat seluruh kelas berdengung kompak.
Well, bukankah biasanya pun seperti ini?.



Sabtu, 26 Maret 2011

May I Love You, Although I’m not Funny? [cerpen]

.
“Siapa Raja yang paling kuaaat?!!”
“Haaaaaaa??”
“Raja Fir’aun, ya?”
“Bukaaan..”
“Raja.. rajaa.. rajaa.. setan?”
“Hoe? Hahahaha salah”
“Raja Abraham!”
“Salaah...”
“Hadeeehh Raja Gopal deh, Yooo..”
“BHUAHAHAHAHA!”
“Salaaah, hahaha gimana? Nyerah nih?”
“Iyadeeh..”
“Jawabannya.. Raajaa.. MANGKUBUMI! Tuh, bumi aja bisa dipangkuu.. weheheheee”
“Oohh, siampruull.. hahaha”
“Kirain apaaann..”
Pasti disetiap kelas ada satu murid yang menjadi biang ramai, kan?. Mungkin rangkaian dialog diatas barusan cukup bisa menggambarkan bahwa kelas tersebut memiliki satu ‘biang ricuh’. Memang tidak semuanya menganggap begitu, tetapi setidaknya gadis yang duduk menunduk di bangku depan itu memilih menganggapnya begitu.
Shilla menggerutu geram. Tebakan ke-4. Sekali lagi ‘si pengganggu’ itu berani melanjutkan teka-teki tak masuk akalnya, ia bersumpah akan menendang ‘si pengganggu’ itu sampai ke Jepang sana, biar kena tsunami sekalian, pikir Shilla anarkis.
“Nah sekarang—“
“Oh masih dilanjutin..” Shilla membanting bolpoinnya tertahan. Dia berbalik, melihat teman sebangkunya “De, suruh diem, kenapa!”
“Hahahaa.. begooo. Iya, ya! Kok gue nggak kepiki-“
“Deeaaa...”
“Eeeh! Kenapa, Shill?”
“Lo, kok malah dengerin si pengganggu itu sih, De.. suruh diem laah. Lo kan ketua kelaas...”
“Tapi tebak-tebakannya kan se—O- oke! Oke!”
“HEEI KALIAN DIEM DOONG—“
Sukurin Lo. Batin Shilla senang. Kerumunan dipojok kelas yang sedari tadi ramai itu terdiam seketika. Perlahan bubar dengan ekspresi beragam, meninggalkan satu murid yang memang penyebab kerumunan tadi terbentuk. Shilla yang menyaksikan adegan pembubaran itu menyeringai, matanya tidak sengaja menangkap ‘si pengganggu’—begitu julukannya bagi Shilla—yang masih berdiri cengo’. Shilla memandangnya datar lalu kembali menghadap depan, berkutat dengan bolpoin dan soal-soal fisika didepannya.
“Nah, selesai kan?” Kata Dea bangga.
“Ah, Elu kalau nggak gue bilangin nggak gerak, De.. malah ikut cekikikan nggak jelas” Cibir Shilla.
“Hehehe, maaf. Khilaf. Eh, Lo udah ngerjain sampe nomer berapa? Gila cepet banget..” Cerocos Dea yang langsung cepat-cepat mengerjakan soal-soal fisika serupa. Shilla senyum cengo’.
Kelas mendadak hening sekarang. Memang kelas sedang mengalami jam kosong, tapi bukan berarti tidak ada tugas yang menemani mereka. Jadi sudah seharusnya begini. Diam dan mengerjakan tugas. Sesekali ada suara anak-anak berbicara walau tidak sampai mengganggu yang lain. Ada juga suara anak menghitung dan lain-lain. Yang pasti ada satu cowok yang sekarang duduk dengan alis bertaut diiringi tawa tertahan teman sebangkunya. Akhirnya cowok tadi menarik buku fisikanya, menatap buku itu bosan.
***
Langit masih terlihat cerah walau tidak sepanas tadi. Murid-murid yang memang saatnya pulang sekolah keluar dengan serempak. Sebagian dari mereka menghabiskan waktu untuk duduk-duduk di kantin dulu, ada juga uang masih setia mendiami kelas seperti mereka. Shilla dan Dea.
“Yang ini udah urut, De”
“Oh, iya bentar” Kata Dea mempercepat gerakannya “Nah, udah mana Shill?” Shilla memberikan tumpukan  kertas ditangannya “Oke, sekarang temenin bentar naruh ini ke mejanya Bu Elena” Shilla mengangguk. Mereka berdua berjalan keluar meninggalkan kelas yang sepi. Saat satu kaki baru saja melangkah keluar kelas, ada sapaan yang sukses membuat jantung keduanya melompat secara bersamaan.
“Bu Ketu! Ashilla!”
“Ampir-nah loh!” Latah Dea yang panik dengan kertasnya. Shilla yang terkejut Cuma melebarkan matanya.
“Nyariiss.. kalau ini semua jatuh, lo kudu ngurutin semua ini, Yooo..” Kata Dea yang entah harus bersyukur karena kertasnya jatuh atau harus kesal dikagetkan seperti tadi.
“Sorry, Sorry.. hehehe”
“Ada apa sih, Rio?” Tanya Dea. Shilla tak bersuara, ia memasang tampang datar.
“Anu, gue minta maaf soal yang tadi kayanya selama ini gue nggak pernah minta maaf deh ke Bu Ketu gara-gara sering bikin kelas rame..” Kata Rio santai. Dea mengangguk ramah.
“Nggak apa, Yo. Haha, abis teka-teki kamu juga ajaib-ajaib banget.. gue suka kok. Santai aja lagi.. lagipul-Aw!” Shilla menusuk pinggang Dea dengan sengaja “Oh! Maksudnya.. jangan diulangin lagi deh, Yo.. mainnya pas istirahat aja kan lebih seru, ntar gue ikutan!” lanjut Dea sedikit gagap.
“Hahaha, oke deh Bu Ketu! Oh iya, Ashilla gue minta maaf juga ya..” Tanggap Rio.
“Ngapain minta maaf ama gue? Dasar pengganggu” Gerutu Shilla  “Yuk, De.. ke kantir Bu Elena” Shilla menarik lengan Dea tiba-tiba. Dea menoleh ke belakang tersenyum minta maaf atas perilaku temannya. Rio tersenyum miring, melambai. Tidak mengerti maksud Shilla tadi sebenarnya.
Daridulu Shilla memang tidak menyukai Rio. Menurutnya Rio adalah ‘si pengganggu’ yang selalu bikin kelas ramai dengan semua tebak-tebakannya yang tidak masuk akal. Bahkan Shilla heran dengan semua teman-temannya yang selalu tertawa saat Rio menyebutkan jawaban sebenarnya. Padahal menurut Shilla tidak ada unsur ‘lucu’nya sama sekali.
Shilla dan Dea berhenti didepan ruang guru, saat Dea untuk kesekian kalinya menanyakan alasan sikap Shilla tadi.
“Lo itu kenapa sih sama Rio? Jutek amat..” Cibir Dea remeh.
“Gue kan undah bolak-balik bilang. Gue nggak suka sama si pengganggu itu” Shilla memutar bola matanya “Udah ah, masuk sana..”
“Eeh, ya sabar dong.. buru-buru amat” Dea tertawa lalu memasuki ruang guru.
***
Hari berikutnya Rio memang tidak pernah membuat kelas ramai lagi. Karena ia tidak mau membuat ketua kelasnya—atau teman ketua kelasnya?—cepat tua karena sering memarahinya. Dan juga karena tidak ada jam kosong akhir-akhir ini.
Bu Elena, guru fisika mereka baru saja menyebutkan nilai tertinggi dan terendah ulangan harian yang dilaksanakan minggu kemarin. Shilla melongo. Namanya disebut sebagai peraih nilai tertinggi itu, tetapi bukan itu yang membuatnya melongo, selama ini ia cukup sering mendapat nilai yang bagus. tetapi ia melongo karena ia ditemani orang lain, orang yang meraih nilai serupa dengan nilainya. Rio.
Rio?? Si pengganggu itu? Kenapa bisa? Bukankah yang ada di otaknya Cuma ‘tebakan bodoh’ semua?. Satu lagi yang membuatnya tidak suka dengan Rio. Gayanya  yang tidak terlihat pintar tetapi bisa menyamainya seperti ini, membuatnya kesal.
Shilla menoleh ke belakang, menjangkau tempat Rio duduk. Rio tersenyum miring sambil menaik-turunkan alisnya secara jenaka, Shilla memanyunkan bibirnya lalu kembali menghadap depan, ia menangkap satu kaliamat dari rangkaian kalimat Dea yang daritadi diabaikannya.
“Wah, dia diam-diam menghanyutkan, Shill!”
Dan Shilla tidak suka itu.
***
Shilla membaca novel didepannya dengan serius. Tempat favoritenya sejak awal bersekolah disini, apalagi saat menemukan novel idamannya ada ditempat ini. Yap. Perpustakaan. Dimana dia tidak akan mendengar suara orang tertawa terbahak-bahak atau pertanyaan-pertanyaan jayus dari seseorang Ha-Ha.
Shilla semakin larut dalam ketegangan cerita dari novel itu, kalau saja tidak ada yang memanggilnya dengan berbisik.
“Hey, Ashilla..”
“Haa?” Jawab Shilla melambat sambil mendongak “Ah, elo” Shilla menyesal harus mendongak dan malah melihat tampang Rio yang seolah tidak pernah merasa punya dosa. Rio duduk di kursi didepannya.
“Ada yang mau aku tanyain nih, kebetulan ketemu kamu”
“Hngg” Tanggap Shilla tidak terlalu peduli, yaah walaupun otaknya sedang beradu, melanjutkan fokus pada novelnya atau menunggu apa yang akan ditanyakan ‘si pengganggu’ itu padanya.
“Kamu nggak suka ya, sama aku?”
“Hn?” Sedikit kaget akhirnya Shilla berhenti pada satu kata di novel itu.
“Kalau iya, kenapa?” Tantang Shill, mendesis keras, ia mendongak sekilas lalu kembali berkutat dengan novelnya.
“Woo!” Rio bersuara agak keras. Gila nih cewek, batin Rio. “Emang kenapa gitu?”
“Emang penting gitu buat kamu?” Shilla tanpa mendongak.
“Ee, penting sih. Soalnya aku nggak suka cari musuh, apalagi cewek haha. Jadi daripada diem-dieman kan mending diomongin gitu, siapa tahu aku bakal berubah jadi lebih baik, dan kita bisa temenan..” Bisik Rio antusias.
‘tik-tik-tik-ngiiing’
Yang terdengar hanya suara detik jam dan kipas angin. Detik berikutnya Shilla baru saja mengerti jawaban Rio tadi, membuatnya ingin tertawa sampai Rio mewek. Rio? Ingin berteman dengannya? Mimpi banget nih cowok.
“Alasannya” Shilla menarik nafas, masih melihati novelnya “karena kamu selalu ganggu aku, kaya sekarang. Aku lagi baca dan kamu malah dateng dan nanya-nanya kaya’ gini, bikin BT ngerti nggak?” Kata Shilla masih menelusuri barisan kalimat dihadapannya.
“Hmm” Rio berpikir sejenak, lalu memperhatikan cewek didepannya yang sedang membaca buku dengan serius. Kalau memang selama ini dia selalu mengganggu Shilla secara sengaja atau tidak sengaja.. “baiklah aku nggak akan ganggu kamu lagi, maaf ya, Shill..” Rio berdiri dari kursinya dan meninggalkan Shilla.
Shilla mengangkat wajahnya. Sedikit terkejut. Tapi lalu ia tersenyum senang mendengar jawaban Rio tadi. Baguslah kalau dia nggak bakal ganggu gue lagi, batinnya. Shilla melirik jam tangannya. Oh! Sudah saatnya dia pulang.
See you tomorrow Mr. Holmes! Mr. Watson!” Shilla mencium novel ditangannya lalu beranjak mengembalikannya ke rak semula.
***
Rio menopang dagu. Bola matanya bergerak seiring larinya bola di lapangan sana. Merasa bosan dia merebahkan tubuhnya di bangku panjang yang sedari tadi dia duduki di tepi lapangan futsal ini. Ada yang hilang akhir-akhir ini. Sense of humournya. Belakangan ini dia menjadi enggan bercanda, merasa tidak enak hati kalau harus memberikan teka-teki andalannya seperti biasa.
Shilla. Mungkin karena rasa sungkannya pada teman sekelasnya yang satu itu. Ah, coba saja kalau dia punya sifar ‘tidak-peduli-pada-perkataan-orang-lain’.
“Woy! Kenape Lo, Yo?” Sapa Gabriel yang baru saja puas mencetak gol dalam latihan futsalnya. Rio yang renungannya langsung buyar mengganti posisinya menjadi duduk.
“Nggak tahu gue juga..” Jawab Rio acuh, sambil merebut botol mineral yang dipegang Gabriel semula. Gabriel mencibir.
“Udah deh, daripada bengong gitu, mending ikut main yuk. Sekali-sekali Olahraga kek, jangan main gitaaar mulu” Ajak Gabriel, Rio menyeringai.
“Nggak deh males, kapan-kapan aja” Rio berdiri dan memberikan botol mineral tadi ke arah Gabriel “Gue duluan ya, Yel..” Rio meraih ranselnya.
“Yaudah sono.. sono..” Canda Gabriel mengusir teman sebangkunya itu. Rio tertawa datar, lalu mulai berjalan keluar dari lapangan futsal yang memang indoor dan terpisah dari gedung sekolah ini.
Baru enam langkah didepan pintu keluar Rio menghentikan langkahnya. Mendadak dirinya mendapat wangsit. Sepertinya dia harus menghibur diri sendiri dengan mencari teka-teki baru deh. Yah, walaupun tidak bisa mengerjai teman-temannya setidaknya dia bisa tertawa sendiri dengan teka-teki barunya nanti. Ha-ha. Rio tertawa sendiri dan melanjutkan langkahnya agak cepat.
“Di perpus ada nggak, ya?” Gumam Rio. Kakinya memasuki area sekolah. Begitu sampai di perpustakaan, dia langsung menuju ke rak baggian ‘hiburan’. Di rak itu memang banyak buku komedi, tetapi ia tidak menemukan buku teka-teki seperti yang diinginkannya. Setelah mencari dengan teliti, akhirnya dia menemukan satu-satunya buku teka-teki yang ada disitu. “Hmm, terbitan lama, ya? Nggak apa deh.. gue belom pernah baca ini..” Pikir girang.
Rio memutuskan untuk meminjamnya saja daripada membacanya disini, lagipula dia agak jiper juga mengingat perpustakaan ini sangat sepi. Memang dia tidak melihat pengunjung lain disini, daripada dia harus tertawa ditemani makhluk la-.oh, baiklah jangan dilanjutkan karena Rio sudah berjalan cepat meninggalkan rak tadi.
Derap sepatu Rio berhenti seketika. Dia menggumam pelan. Ia mundur beberapa langkah untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Oh! Ternyata benar, ada Shilla disana membaca buku di kursi dan posisi yang sama seperti saat mereka bertemu beberapa hari yang lalu. Oh, jadi cewek itu sering kesini. Dia bukan hantu, kan?. Racau Rio dalam hati. Merasa otaknya sedang miring dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak mungkin ada hantu di sore hari.
Tidak tahu mengapa ada keinginan untuk menemui cewek itu. Rio duduk di kursi tepat didepan Shilla dengan keras secara sengaja, membuat Shilla terlonjak dan mendongak dengan mata yang dilebarkan, tatapan yang seolah ingin menelan bulat-bulat orang yang mengganggunya tadi mengecil bergantian dengan mulutnya yang melebar. Shilla melongo mendapati ‘si pengganggu’nya berulah lagi.
“Mata itu. Ekspresinya saat melebarkan mata! Hahaha” Rio membatin senang.susah payah ia menahan tawa. Ada apa dengan Rio?. Shilla sewot.
“Ngapain kamu kesini? Mau gangguin aku lagi?” Tanya Shilla ketus sambil membuang mukanya ke novel bacaannya.
“Nggaak.. aku kan udah bilang aku nggak bakal ganggu kamu lagi. Aku udah nggak pernah bikin kelas rusuh kan?” Kata Rio sambil membuka buku teka-teki yang semula ingin dipinjamnya tapi berubah rencana ingin membacanya disini dulu. Lagipula ada alasan lain yang ‘belum mau’ disadari Rio soal penundaan kepulangannya.
“Lalu barusan kau pikir bukan mengganggu? Dasar bodoh” Cibir Shilla tanpa suara. Menit berikutnya Shilla menjadi tidak fokus dengan apa yang dibacanya. Diam-diam ia melirik Rio yang sedang mengkikik sendiri. Halah, orang gila. Ejeknya lalu memutuskan untuk tidak mempedulikan Rio.
“Hihihi, bisa aja nih buku!” Kikik Rio ditengah keheningan perpustakaan. Shilla manyun, beberapa kali dia suka terganggu karena tawa Rio yang seka meledak tanpa aba-aba.
“Eh, Ashilla! Gue ada tebak-tebakan nih, jawab deh kalau bisa..” Celetuk Rio tiba-tiba.
“Haaa?” Shilla mengangkat wajahnya dan melebarkan matanya, membuat Rio cekikikan sendiri.
“Nih, jawab ya.. kentang apa yang disukain anak bayi?”
“Ha?” Shilla mengerjap. Tidak siap. “Ah, aku nggak mau jawab tebak-tebakan kamu..” Jawab Shilla sewot.
“Yaelaah.. coba jawab dulu deh!”
“Ck” Shilla berdecak, jujur kalau diingat-ingat sepertinya hanya dia satu-satunya anak dikelasnya yang belum pernah mendapat teka-teki dari Rio. Apalagi Shilla yang memang tidak hoby dengan sesuatu yang tidak masuk akal— tidak masuk akal menurutnya—itu tidak mengerti harus menjawab apa.
“Ayoo.. bisa jawab nggak? Ah, payah banget kamu..” Rio menaik-turunkan alisnya jail.
“Enak aja” Sergah Shilla “Bodoh amat lah, bubur kentang kali..”.
“Ah, saalaaahh..” Rio cengengesan mengejek.
Shilla mengerutkan kening “Boneka kentang?” jawab Shilla tidak yakin, ngapain juga dia jawab itu?.
“He? Hahaha salah..”.
Shilla merengut. menggaruk dahinya. Mencoba berpikir. Dia tidak mau melihat atau mendengar tawa puas Rio karena dia tidak berhasil menjawab teka-teki itu. Dia tidak suka itu. Oh, Pak Holmes, bantulah aku.
Jadi sekarang Shilla mengabaikan novel yang dibacanya. Terus memikirkan berbagai jawaban. Rio memperhatikan setiap ekspresi Shilla yang sering menggerutu tidak jelas. Apalagi part dimana Shilla melotot.
“Nyerah nggak?” Tanya Rio mengejek.
Shilla yang sedang menunduk mencari ide mendongak dengan kesal. Memandang Rio BT.
“Oh, itu tandanya udah nyerah ya?” Ejek Rio “Wah, beneran payah banget kamuu” Tambahnya.
“Emang jawabannya apa?” Tanya Shilla ketus.
“Mau tahu?”
“Haa-haa-haa.. menurutmuu?” Shilla tertawa datar.
“Jawabannyaa..” Rio menegakkan posisi duduknya “KENTANG tingtung tingtang ting tuuunggg~ HAHAHAHA” Sorak Rio sambil menampilakan wajah kocak.
Shilla mendelik tidak percaya. Jawabannya itu? ITU?.
“Kamu serius?”
“Yaiyalaah..” Sahut Rio diseka tawanya. Oh, sepertinya selera humornya kembali. Ia seperti hidup kembali.
Merasa cegek dan malu. Shilla menutup novelnya keras lalu berencana untuk cepat-cepat menghilang dari sini. “aku. Aku pulang duluan.” Pamit Shilla jutek lalu beranjak pergi satelah memasukkan novelnya ke rak semula. Tawa Rio berhenti mendadak.
“Lho, lho. Shill! Ashilla!” Panggil Rio yang langsung berdiri mengejar Shilla. “Kok langsung pulang gitu sih? Malu ya kamu gara-gara nggak bisa jawab. Hahaha cemeen..”
“Ha-ha-ha” Tawa Shilla datar “Aku merasa bodoh banget tau nggak mau nanggepin tebakan jayus kamu. Asal kamu tau aja menurut aku tebakan kamu tuh nggak logika dan nggak smart!” Cibir Shilla masih berjalan lurus. Saat sampai di meja petugas perpustakaan yang siap-siap akan menutup perpustakaan, Shilla tersenyum ramah, lalu mengambil bolpoin dan mulai menulis daftar hadir.
“Kamu, ya? Daritadi saya dengar tertawa saja. Untuk nggak ada pengunjung lain, kalau ada sudah saya usir kamu” Kata petugas perpustakaan pada Rio. Shilla yang sedang bertandatangan, mencibir tanpa suara.
“Hehehe. Maaf bu!” Tanggap Rio “Bu, saya pinjam ini..”
Shilla langsung keluar perpustakaan setelah sebelumnya pamit pada petugas perpustakaan, meninggalkan Rio yang sedang mengisi kertas tanda meminjam buku.
“Ashilla, tunggu!” Rio mempercepat tulisannya, tetapi Shilla menulikan telingannya sesaat.
Setelah agak jauh, barulah terdengar suara Rio yang menyusul dengan setengah berlari.
“Ashilla, aku mau jawab pendapat kamu yang tadi..”
“Hm,”
“Mungkin teka-teki aku memang pertanyaan bodoh yang nggak logika bagi kamu, tapi menurut aku itu yang dinamakan kreatif. Lihat aja, dengan kebodohannya yang kreatif teka-teki itu bisa buat aku dan orang-orang tertawa. Hebat kan?, yaa kecuali buat mereka yang memang nggak bisa ketawa sih. Biasanya yang nggak ikutan ketawa itu orang-orang depresi.. atau orang tempramental.. atau mungkin memang orangnya aja yang nggak bisa diajak bercanda, kaya’ seseorang..” Kata Rio panjang lebar sambil tersenyum miring, “Hahaha, aku pulang duluan deh. Maaf hari ini aku ganggu kamu. Oh, ya.. jangan suka nggerutu sama marah-marah.. bikin sakit jantung. Daa” Katanya lalu berlari lebih dulu.
Shilla berhenti berjalan. Terkejut dengan semua yang dikatakan Rio barusan. Benarkah dia tipe tempramental? Masa’ dia tidak bisa diajak bercanda? Trus itu beneran bisa bikin sakit jantung?. Jangan-jangan memang benar.
Masa’ sih Cuma dia yang tidak bisa tertawa mendengar jawaban Rio tadi?.
“Kentang ting tung tingtang tingtuuungg...” Eja Shilla pelan menirukan intonasi yang diucapkan Rio di perpustakaan tadi.
“Hmpph..” Shilla menahan tawa, dan akhirnya benar-benar tertawa walaupun tanpa suara. Kalau dipikir-pikir memang konyol banget, membayangkan Rio benar-benar melakukan hal itu pada seorang bayi. Hahahaha.
Pipi Shilla memanas saat ekspresi kocak Rio melintas. Matanya melebar.
“Yeee, kok jadi gini sih. Kok gue jadi inget-inget Rio. Waaah!” Shilla menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu mulai berjalan lagi walau sesekali tertawa tanpa alasan.
***
Dea mencoba menajamkan telinga dan matanya. Mencoba menemukan gerutuan dan ekspresi khas yang biasa ditampilkan teman disebelahnya bila hal ini terjadi.
“Lho, Shill.. Shill..” Colek Dea ditengah tepuk tangan dan berbagai sorakan yang sedang terjadi dikelasnya.
“Apa, De?” Shilla menoleh tanpa beban.
“Kok nggak ngomel? Atau minimal pasang tampang BT gitu?” Tanya Dea heran.
“Ha? Buat apa?”
“Kan. Kan. Kan. Si-Rio, ‘si pengganggu’ itu, ngalahin lo lagi di ulangan fisika ini..”
Ooh, iya ya? Nggak masalah sih, soalnya gue emang ngerasa ulangan kemaren nggak ada persiapan, malemnya nggak belajar ada kondangan gitu..hehehe” Jawab Shilla cengengesan.
“Ha?” Dea kaget “Hahahaa..” Tawa Dea janggal. Pasti ada sesuatu sama Shilla.
Tidak apa-apa kok, kalau Rio yang mengalahkan nilainya kali ini, tapi ulangan berikutnya, jangan harap deh. Lagipula Shilla hanya tidak ingin terkena sakit jantung atau cepat tua karena keseringan menggerutu.
Shilla menoleh ke belakang, ke tempat Rio yang sedang tersenyum lebar bersama teman sebangkunya. Shilla kembali menghadap depan, menggaruk telinganya saat merasakan jantungnya mulai berdetak tidak teratur. Ia teringat sesuatu.
“Jangan-jangan gue kena gejala sakit jantung?” Gumam Shilla sambil melotot bingung.
“Lo tadi ngomong apa, Shill?”
“Ha? Ah, eh, oh.. emm nggak.. lupain aja..” Kata Shilla terbata-bata, lalu beralih memperhatikan wajah teduh Bu Elena daripada tatapan bingung Dea.
***
Shilla membalik halaman terakhir dari novel yang dibacanya disusul cover belakang novel tersebut. Ia mengela nafas panjang dengan lega.
“Waah, akhirnya selesai jugaaa.. kereeenn..” Shilla memeluk novel yang beberapa hari ini selalu dia baca secara rutin setiap pulang sekolah. Hanya di perpustakaan ini. Shilla berhenti memeluk novel itu saat mendengar suara tidak asing menyapa telinganya.
“Kamu nggak apa kan, Shill?”
“Hng?” Shilla membuka matanya “Aa!! Y-ya, nggak apa lah.. maksud kamu apa?” Tanya Shilla tersinggung.
“Yaa aku kira kamu karena kelamaan jomblo jadi stress gituu.. buat menuhin obsesi jadinya kamu meluk-meluk tuh buku. Iya kan kamu jomblo kan?”
“Eeh! Apaan nih maksudnya, pake bawa-bawa jomblo-jomblo segala. Iya aku jomblo kenapa?” Shilla sewot “Kaya’ kamu laku aja..”
“Cih, sorry aja yak. Aku udah punya cewek yang aku suka..”
Shilla melebarkan matanya “Halaah, yang naksir kan kamunya, belum tentu juga ceweknya mau.. kan kalian belum pacaran. Sama aja itu namanya kamu jomblo..” Ejek Shilla, walau dalam hati iya panik tanpa sebab.
“Yaah, setidaknya aku pdkt’an dulu dong, ama dia.. sampe dia suka sam aku pokoknya.. wehehehe..”
“Ha-ha-ha” Shilla ketawa datar—atau ragu?.
Hening. Keduanya sama-sama diam. Mereka memang sering bertemu disini. Biasanya Shilla yang akan sibuk membaca dan Rio akan beralibi membaca sesuatu sambil sesekali memperhatikan ekspresi Shilla waktu membaca. Sekarang?
“Sekarang ngapain kamu kesini? Nggak mau ngasih tebak-tebakan lagi?” Celetuk Shilla memecah keheningan.
“Hahaaa, kamu kangen ya, aku kasih tebak-tebakan.. ketagihan kan kamu?”
Shilla mendelik saat menyadari celetukannya tadi. Ada kebenaran dalam tanggapan Rio. Rasanya seru juga menemukan jawaban-jawaban konyol dari teka-teki Rio.
“Enggak gitu jugaa..” Sangkal Shilla pelan.
“Hahahaha.. okedeh.. tapi jangan disini yok, di taman belakang sekolah aja gimana? Adem tahu..”
“Eng? Aku belum pernah kesana sih. Boleh deh..”
“Okee”
Shilla dan Rio mulai beranjak meninggalkan perpustakaan. Mereka berjalan menuju taman belakang. Ada pohon besar yang daunnya sesekali berguguran. Dibawah pohon itu ada bangku kayu yang melingkar. Dari sini bisa terlihat lapangan basket, dengan beberapa anak yang bermain-main basket dulu sebelum pulang ke rumah.
“Wah, bener, Yo. Sejuk banget. Kok aku baru tahu ya?” Shilla duduk di kursi kayu, diikuti Rio yang menghirup udara dan menghembuskannya keras.
“Hehehe, gimana nyaman kan?”
“Iyaa..” Shilla mengangguk.
“Oke. Sekarang aku punya tebak-tebakan.. siaapp?”
“Haa-haaa.. siap. Mau nggak mau sih.. hehe”
“Eeemm, kenapa Teletubies Cuma ada empat?” Tanya Rio bersemangat. Shilla mencibir.
“Jiaah, mainannya teletubies..”
“Udah jawab aja lah..”
“Ehehehe-ehehe.. kenapa ya? Karena..” Kata Shilla menggantung “Karena dananya nggak cukup kali buat bikin kostum tubies ke-5?” Lanjutnya. Ya ampun ini mah, ngarang abis namanya, pikir Shilla. Rio ngempet ketawa.
“Hmpphihihi, salaahh!!”
Berbagai jawaban asal coba diutarakan Shilla. Jawaban paling bodoh yang Shilla tahu pun ia utarakan, dan ternyata semuanyaa.. salah. Shilla mulai emosi sendiri.
“Trus apa doong?” Juteknya Shilla muncul.
“Soalnya.. kalo tujuh, ntar nyaingin SM*SH Weeee...”
Glek “Jiahahahaha, boyband naik daun itu? Hahahahaaaa.. bisa aja kamu, maah..”
Keduanya terbahak-bahak. Shilla tidak habis pikir gimana bisa Rio menyambungkan Teletubies dengan SM*SH. Ya ampun. Tawa mereka perlahan mereda. Rio tersenyum melihat langit sore. Shilla memegangi jantungnya. Ada yang aneh. Ada yang salah. Dia memegangi pipinya, lalu melihat jam tangannya.
“Em, Rio.. kayaknya aku pulang duluan deh”
“Eh?” Rio menoleh “Oh, yaudah. Hehehe hati-hatii..”
“Iyaa. Daaaa..”
Shilla berjalan sambil memegangi jantungnya. Jangan-jangan dia. Dia. Dia. Oh, memang akhir-akhir ini dia secara ajaib merasa nyaman dengan Rio. Tapi. Tapi. Tapi. Entahlah, Shilla memilih menunggu waktu yang menjawab dengan sendirinya. Sampai dirinya benar-benar yakin.
***
Beberapa hari ini Shilla tidak pergi ke perpustakaan lagi. Ia pun hanya sesekali ke taman belakang untuk merenung, tapi biasanya dia tidak akan bisa merenung karena disana sudah ada Rio yang mendahului. Jika sudah begitu, Shilla akan salah tingkah dan cepat-cepat pamit pergi. Sikap anehnya membuat Rio tidak enak hati, apakah cewek itu masih menganggapnya ‘si pengganggu’ yang harus ia jauhi?.
Hari ini saat pulang sekolah, akhirnya Shilla memilih membicarakan keanehannya akhir-akhir ini pada Dea saja. Selama ini Shilla tidak cerita apa-apa pada Dea, walaupun sebenarnya Dea sudah mengetahui ada sesuatu yang terjadi pada Shilla.
Setelah meminum jus Alpukatnya beberapa teguk, Dea mulai membuka suara menanggapi cerita yang baru saja diakhiri kawannya.
“Hihihii...” Oh, ternyata tawa yang keluar.
“Kok ketawa sih? Gue nggak sakit jantung kan, De?” Tanya Shilla, walau bukan itu sebenarnya yang ia takutkan.
“Aduuh Shillaa kamu ini lugu atau terlalu pinter sih. Ya nggak lah” Kata Dea “Udah Lo nggak salah kok. Lo emang ‘ehem; udah jatuh cintrong ama Rio ‘si pengganggu’” Lanjutnya disertai tanda kutip dari kedua tangannya.
Shilla mengaduk-aduk jus Strawberrynya “Beneran yaa..” Katanya bimbang, mukanya memerah “Kok bisa jadi kaya’ gini ya, De.. ya ampuun lo kan tahu dulu gue mbleneg banget sama dia”
“Yaaah, sekarang ini banyak banget kok cerita-cerita dan lagu yang nyeritain ‘benci jadi cinta’, jadi menurut gue itu hal yang biasa dan wajar..” Kata Dea yakin “Gue pernah baca di internet quote kaya’ gini “Cinta itu kaya’ kentut keluar dengan sendirinya dan bisa menyerang siapa saja’” Dea manggut-manggut. Tawa Shilla meledak.
“Bhuahahaha,  quote dari siape tuh? Aneh banget. Pasti sodaraan sama Rio ya? Aneh gitu..” Shilla tergelak.
“Ada tuh, publik figur yang lagi eksis, poconggg namanya, hahaha”
Tawa Shilla memelan, ia teringat sesuatu “Tapi, dia pernah bilang kalau dia lagi suka sama cewek, dan lagi berusaha pdkt sampe si cewek suka ama dia. Trus, gimana?” Ucap Shilla lirih.
“Ooohh..” Dea melantunkan nada kecewa ala penonton-penonton sitkom. Sebelum Dea sempat mengatakan sesuatu, Shilla menyela.
“Sebenernya gue udah merencanakan sesuatu sih, De. Udah dari kemarin-kemarin, Cuma gue waktu itu emang belom yakin”
“Apaan tuh?”
“Gue bakal bilang ke dia soal perasaan gue. Ya, walaupun gue nggak yakin dia bakal menanggapi positif. Tapi dalam kamus gue, kalau udah yakin nggak ada acara nunggu-nunggu lagi, De. Gue harus to the point kalau perlu gue yang bertindak duluan”
Dea terperangah dengan keyakinan teman sebangkunya sekaligus teman terdekatnya ini. Setaunya Shilla memang pribadi yang tegas. Dan dia tau Shilla pasti sudah memikirkan hal ini matang-matang.
“Baiklah, gue bakal mendukung, Lo. Sekarang kan udah jamannya emansipasi wanita, jadi gue pikir nggak ada salahnya kalu lo mulai duluan..” Kata Dea.
Shilla menghela nafas. Ada satu lagi sebenarnya, sesuatu yang meragukan niatnya, sesuatu yang menurutnya merasa tidak pantas melakukan niatnya. Sesuatu yang membedakannya dengan Rio. Beranikah dia?.
“Mau kapan, Shill?”
“Sekarang?” Shilla menggigit bibir. Mulai tidak yakin. Dea menelan ludah.
“Baaikk. Udah siap?”
“sebelumnya, De. Kamu nanti mau minjemin pundak kamu kan?”
Dea berpikir sebentar, lalu tersenyum mengerti “Pasti”. Shilla tersenyum tipis.
Shilla menandaskan Jus Strawberrynya, setelah berpikir beberapa saat. Akhirnya ia berdiri dan telah memantapkan niat.
***
Dea memang tidak berada dilokasi Shilla dan Rio sekarang. Ia akan mendukung dan menunggu Shilla disini. Di mobilnya. Dea berdoa dan berharap keputusan yang terbaik bagi keduanya.
Shilla berdiri disini. Di taman belakan sekolah. Ia menatap Rio yang terkejut mendapati kedatangan Shilla. Oh, tuhan.. kali ini saja jangan buat Shilla pergi begitu saja tanpa alasan, doa Rio.
“Hai, Rio” Sapa Shilla.
“Hai, Ashilla” Sapa Rio senang. Ia menghampiri Shilla.
“Ada. Sesuatu yang mau aku omongin. Tapi. Please jangan disela dulu”
Rio mengerutkan keningnya, tapi kemudian tersenyum dan mengangguk.
“Dari awal kita sekelas di SMA ini. Aku bersumpah aku benar-benar tidak suka dengan semua sikap kamu. Muka kamu yang selalu saja seperti tidak punya dosa. Cara kamu membodohi temen-temen dengan teka-teki jayusmu. Sumpah. Carmuk banget”.
“Sejak saat itu aku mematenkan satu gelar khusus buat kamu. ‘si pengganggu’. Kamu nyadar nggak? Ketawa kamu itu selalu nyaring diruang kelas, sering banget bikin risih telinga aku. Gara-gara kamu juga guru piket jadi sering masuk waktu jam kosong, karena apa? Karena kamu suka bikin rame. Bikin susah Dea. Dan akhirnya aku ikut kesel juga”. Shilla dan Rio tertawa kecil bersamaan.
“Tapi, sejak kamu sering gangguin aku. Sampai–sampai di perpus pun kamu gangguin aku. Memaksa aku merasakan posisi teman-teman lain untuk mencari jawaban teka-teki kamu, biar nggak denger suara puas kamu yang ngeselin. Aku jadi merasa beda. Sejak kamu menentang kalai teka-teki kamu itu bukan ‘bodoh’ tapi ‘kreatif’, aku jadi mencerna semuanya perlahan”.
Shilla menarik nafas, tersenyum.
“Tahu nggak? Pulang dari perpus aku jadi sering ketawa sendiri, kadang inget ekspresi kamu waktu bilang ‘kentangtingtungtingtangtingtung’” Shilla tertawa.
“Dan sejak aku sama kamu, aku jadi ngerti ternyata kamu orang yang sangat baik, ya walaupun tetep nyebelin. Tapi aku tahu kamu orang yang suka menghibur dan nggak suka permusuhan. Kamu berhasil merubah pandangan aku tentang kamu, kamu juga bikin aku jadi nggak suka ngumpat atau menggerutu lagi, asal kau tahu saja”
“Jadi sekarang yang ingin aku tanyakan. Bolehkah aku berharap kalau aku ingin selalu didekatmu?”
Rio terkejut.
“May I love you, although. Although I’m not. Funny?” Tanya Shilla pasrah.
Ya. Itu dia. Rio yang menurut Shilla terlalu baik dan humoris itu tidak pantas untuk Shilla yang jutek. Mungkin Shilla bisa terhibur dengan Rio. Tapi bagaimana sebaliknya? Shilla mungkin tidak mampu bersikap lucu untuk menghibur Rio. Itu yang dia ragukan.
“Ashilla..” Rio memegang pundak Shilla, menatap matanya lekat-lekat.
“Maaf” Kata Rio “Tapi aku sudah suka sama cewek”
“A-aku tahu. Aku, nggak apa.. y-yang penting aku udah pu-“
“Tolong jangan dipotong dulu” sela Rio “dan lo tahu? Akhirnya PDKT aku berhasil buat cewek itu akhirnya suka sama aku. Dan aku benar-benar menyayangi cewek itu sungguh-“
“Buat apa sih kamu nyeritain sedetail itu?” Shilla mulai kalut, bahunya berhetar, ia menggigit bagian dalam bibirnya kuat-kuat. Apa maksud Rio bilang seperti itu kepadanya? Setelah ia mengatakan semuanya panjang lebar?  Bukankah cukup dengan kata penolakan?.
“Itu semua karena, cewek yang aku suka. Itu kamu”
Shilla melebarkan matanya, membuat air mata yang tertahan jatuh dengan sendirinya. Ia tidak bisa berkata-kata. Ia tidak tahu harus bersikap senang atau marah pada Rio.
Rio tersenyum tulus “Walau kamu nggak lucu, tapi aku tahu kamu punya kelebihan yang lain, sesuatu khas yang bisa menghilangkan rasa BT aku. Aku suka semua yang ada pada kamu, aku suka saat dimana kamu melebarkan mata. Aku nggak butuh cewek komedian untuk mengisi sebagian hati aku” Kata Rio  final, menjawab semuanya. Shilla tersenyum terlalu bahagia, ketika Rio langsung memeluknya, Shilla memukul punggungnya kesal.
“Makasih. Makasih, Yo”
***
‘tiit-tiit’
Dea meraih ponselnya tergesa-gesa, membuka pesan singkat yang sedari tadi ditunggunya matanya berbinar.
       From: ShillaaaXD
       Gw brhasil, De! Maaf bikin nunggu, tp kyknya gw plg bareng Rio aja. Thx
       Betewe. I love youuuuu.. :*

Dea bersorak. Syukurlaahh. Semoga ini memang keputusan yang paling baik. Yes! Yes! Yes! Berarti besok kudu ditagih PJ nih. Asiiikk, sorak Dea.
Tunggu. Jadi Gue daritadi nungguin Shilla percuma dong, kalau akhirnya dia pulang bareng Rio? Tau gitu dia tinggal pulang ajaa.
“Yeee, Shilla maaaahhh...” =_=a

-The End-
.

Eyaaakk. Ha-ha-ha -_-a. Yang saya inget selesai nulis ini di kertas tangan saya kemeng. Selesai ngetik ini pun tangan saya kemeng. Kayaknya ini cerpen emang lebih panjang dari cerpen-cerpen saya sebelumnya ya? XD
Gimana nih? Garing banget ya? Datar gituu.. -,-. Maaf ya, kalau part adegan Rio-Shilla saling menyatakan perasaan itu feel nya nggak dapet. Sama sekali tidak berpengalaman ^^V
Eh kalau diingat-ingat ini salah satunya cerpen aku yg tokohnya jadian lho! Biasanya kan adaa aja kejadiannya yang dibikin ceweknya matilah, cowoknya matilah, cowoknya suka cewek lain lah, bahkan ada yang dua-duanya mati XD. Yaaa.. sekali-sekali lah, yaaa... :P.
Okeh. Minta komentarnya doooongggg.... makasih yang udah mau baca dan berkomentar.
Oh iya, sama doain saya seminggu besok mau ujian, hehehe ^^a.
Maap kalo banyak yang salah ketik, nggak sempet ngecek ulang (gak sempet apa males?) =o=a
Dadaaaaahhh

oh iya nambah lagi, maap kalo yg ini ff lagi, tapi tunggu saja saya ada projek lain yang bukan ff kok! ;)
`GentaRP`




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...