Sedih sekali rasanya.
Rasanya kayak kamu ingin memaki dirimu sendiri karena tidak bisa menjaga kepercayaannya.
I mean..
Bukankah kamu sudah menyusun masa depanmu berdasar pada kepercayaannya?
Lalu, kalau sudah begini,
Apa kabar masa depan?
Coretan Bagian
30 days challenge
(25)
amateur
(9)
Chord
(6)
ERRORPAGENOTFOUND
(18)
fiksi
(25)
ihvnoidea
(25)
kokoro
(32)
m-u-s-i-c~
(15)
nothing -_-
(1)
putih abu - abu
(13)
Rakkī
(11)
Serial-LOTR
(27)
star(s)
(20)
suki-desu
(16)
Tomodachi
(27)
Rabu, 14 Oktober 2015
Ulur[k]an Tangan
Mana yang lebih baik?
Mengulur tangan untuk meminta bantuan atau Mengulurkan tangan untuk membantu orang lain?
Sebagian orang saya jamin akan menjawab dengan lantang "ya mengulurkan tanganlah!" karena dari kecil kita terbiasa mendengar istilah "lebih baik tangan diatas daripada tangan dibawah.."
Sebenernya ngga ada yang salah dengan istilah itu, cuma disini aku pengen bahas masalah ulur - mengulurkan ini lebih ke arah yang lebih dalem lagi [mungkin sih].
Bagiku, perihal mana yang baik antara mengulur atau mengulurkan tangan bergantung pada kondisi diri.
Sayangnya, semakin kesini banyak orang yang tidak bijak dengan sendirinya. Termakan sama kalimat - kalimat galau, info - info common sense yang beredar lewat akun abal - abal, atau memang karena kondisi sosial sekarang yang menuntut kita menjadi tidak nyaman untuk membijakkan diri sendiri.
Aku mau tanya. Kira - kira..
Jangan salah lho. Banyak sekali orang yang berusaha kuat, ingin menghadapi semua masalahnya sendirian, sampe batas kemampuannya nggak kuat dan dia justru jatuh lebih dalam. Iya kalau orang - orang disekitarmu punya tangan yang cukup panjang untuk menjangkau lembahmu yang semakin dalam itu? Lah kalau nggak?
Disini, bukan berarti aku melarang kalian buat menjadi sosok yang sangat strong ataupun sebegitu tegarnya. Aku cuma mau coba kasih kalian ide lain. Bahwa nggak semuanya tangan yang diatas berarti baik. Bayangkan kalo quote itu diilhami banget sama seorang dokter. Terus dokternya itu lagi sakit menular, tapi karena dia mikir dia bukanlah orang yang seharusnya meminta tolong, dan dia seharusnya tetep ngobatin pasiennya dokter tersebut bersikukuh ngobatin pasiennya.
Hasilnya?
Mungkin nggak kalo kerja dokternya jadi nggak maksimal?
Mungkin nggak kalo justru pasiennya ketularan sakit dan bikin sakitnya jadi lebih parah?
Jadi mana yang menurutmu lebih baik?
Silahkan jawab sendiri.
Bijaklah pada dirimu sendiri. Percayalah bahwa dengan menjadi orang yang mengulur tangan, kamu justru bisa nemuin keindahan lain dari tangan orang yang mengulurkan tangan ke kamu.
Mengulur tangan untuk meminta bantuan atau Mengulurkan tangan untuk membantu orang lain?
Sebagian orang saya jamin akan menjawab dengan lantang "ya mengulurkan tanganlah!" karena dari kecil kita terbiasa mendengar istilah "lebih baik tangan diatas daripada tangan dibawah.."
Sebenernya ngga ada yang salah dengan istilah itu, cuma disini aku pengen bahas masalah ulur - mengulurkan ini lebih ke arah yang lebih dalem lagi [mungkin sih].
Bagiku, perihal mana yang baik antara mengulur atau mengulurkan tangan bergantung pada kondisi diri.
Sayangnya, semakin kesini banyak orang yang tidak bijak dengan sendirinya. Termakan sama kalimat - kalimat galau, info - info common sense yang beredar lewat akun abal - abal, atau memang karena kondisi sosial sekarang yang menuntut kita menjadi tidak nyaman untuk membijakkan diri sendiri.
Aku mau tanya. Kira - kira..
Berapa orang yang dengan berani akan meminta pertolongan ketika dia benar - benar sedang jatuh?
Jangan salah lho. Banyak sekali orang yang berusaha kuat, ingin menghadapi semua masalahnya sendirian, sampe batas kemampuannya nggak kuat dan dia justru jatuh lebih dalam. Iya kalau orang - orang disekitarmu punya tangan yang cukup panjang untuk menjangkau lembahmu yang semakin dalam itu? Lah kalau nggak?
Disini, bukan berarti aku melarang kalian buat menjadi sosok yang sangat strong ataupun sebegitu tegarnya. Aku cuma mau coba kasih kalian ide lain. Bahwa nggak semuanya tangan yang diatas berarti baik. Bayangkan kalo quote itu diilhami banget sama seorang dokter. Terus dokternya itu lagi sakit menular, tapi karena dia mikir dia bukanlah orang yang seharusnya meminta tolong, dan dia seharusnya tetep ngobatin pasiennya dokter tersebut bersikukuh ngobatin pasiennya.
Hasilnya?
Mungkin nggak kalo kerja dokternya jadi nggak maksimal?
Mungkin nggak kalo justru pasiennya ketularan sakit dan bikin sakitnya jadi lebih parah?
Jadi mana yang menurutmu lebih baik?
Silahkan jawab sendiri.
Bijaklah pada dirimu sendiri. Percayalah bahwa dengan menjadi orang yang mengulur tangan, kamu justru bisa nemuin keindahan lain dari tangan orang yang mengulurkan tangan ke kamu.
Sabtu, 15 Agustus 2015
Maaf Aku PMS
I bet you guys have no idea why the hell are woman could turn into a fuckin annoying person while they are having their period.
Guess what? We. Surprisingly. Also dont know why.
Yea, technically we know it already about the hormone effect.
but, we really dont have any idea.
Serius ya.. aku pribadi sih juga ngerasa kesel. saat PMS nggak bisa dipungkiri sentimentalnya itu meningkat. Apa - apa dibaperin, apa - apa bikin bete, rasanya pengen ngeluh, rasanya semua kerasa berat, capek (physically and mentally), dan yang paling parah ketika kita berusaha mengendalikan, rasanya malah makin sedih. [?]
Jadi tolong wahai kaum Adam. Maklumi kami ketika masa itu datang. Tolong. Bukan, ini bukan karena kami egois inginnya dipahami saja. Kami (atau mungkin aku) sudah berusaha mengontrol diri untuk nggak terlalu baper, nggak tersinggung, nggak gampang ngeluh tapi semua usahanya malah bikin semua pikiran kekumpul di otak terus rasanya pengen meledak dan efek paling terburuknya ya....marah - marah atau nangis.
Cuma sehari - dua hari saja. Tapi mungkin setiap yang aku ucapkan diatas nggak akan cukup mampu menjelaskan apa yang aku dan teman - teman cewek rasakan ketika PMS. Untuk itu saya, mewakili yang lain mengucapkan maaf sebesar - besarnya atas ketidaknyamanan yang kami perbuat.
-Ocehan genta yang sedang PMS-
Guess what? We. Surprisingly. Also dont know why.
Yea, technically we know it already about the hormone effect.
but, we really dont have any idea.
Serius ya.. aku pribadi sih juga ngerasa kesel. saat PMS nggak bisa dipungkiri sentimentalnya itu meningkat. Apa - apa dibaperin, apa - apa bikin bete, rasanya pengen ngeluh, rasanya semua kerasa berat, capek (physically and mentally), dan yang paling parah ketika kita berusaha mengendalikan, rasanya malah makin sedih. [?]
Jadi tolong wahai kaum Adam. Maklumi kami ketika masa itu datang. Tolong. Bukan, ini bukan karena kami egois inginnya dipahami saja. Kami (atau mungkin aku) sudah berusaha mengontrol diri untuk nggak terlalu baper, nggak tersinggung, nggak gampang ngeluh tapi semua usahanya malah bikin semua pikiran kekumpul di otak terus rasanya pengen meledak dan efek paling terburuknya ya....marah - marah atau nangis.
Cuma sehari - dua hari saja. Tapi mungkin setiap yang aku ucapkan diatas nggak akan cukup mampu menjelaskan apa yang aku dan teman - teman cewek rasakan ketika PMS. Untuk itu saya, mewakili yang lain mengucapkan maaf sebesar - besarnya atas ketidaknyamanan yang kami perbuat.
-Ocehan genta yang sedang PMS-
Langganan:
Postingan (Atom)