Kamis, 31 Desember 2015

Howay 2015!

Alhamdulillah..

Hai!

Nggak nyangka aku sudah harus memasuki tahun baru lagi. 2016.
Well, gimana ya. Sebenernya alhamdulillah sih, karena aku sendiri merasa puas dengan apa saja yang sudah aku lakuin di 2015. Beberapa hal yang aku targetin di awal tahun pun banyak yang kecapai, dan walaupun eksekusinya nggak semuanya sempurna, tapi bagiku segalanya masih nampak berkesan. Dan aku harus mensyukuri itu.
Bila dilihat dari sumber perekaman memori (yang biasanya) paling bisa aku andalkan, diary, sayangnya kai ini malah nggak bisa. Soalnya, aku sendiri nggak pernah nulis diary di tahun ini. Jaraaaaaaang banget. Pas dilihat bulan aku nulis diary itu januari-feb sama novem-desember XDXD dan isi diary itu menunjukkan bahwa aku mengawali tahun ini dengan penuh harapan, lalu kebimbangan karena belum terbiasa, dan diakhiri dengan kejenuhan dan kelelahan.

Hahaha!

Tapi by the way, siapa yang sangka? Di tengah – tengah tahun ini ada beberapa pencapaian yang kadang aku sendiri nggak percaya. Siapa juga, pula yang lantas mengira kalau pencapaian artinya selalu senang? Hahah. Begini, bukan berarti saya tidak senang, tapi mungkin dengan mendengar kata pencapaian orang lupa kalau setelah mencapai sesuatu pun seseorang masih harus mendapatkan konsekuensi, rintangan dan berbagai hambatan sebagai imbuhan dari pencapaian. Orang, orang dapat hadiah kuis aja masih harus dipotong pajak kan ya? ;)

So, mungkin setelah ini aku akan bikin postingan – postingan tentang apa saja yang menjadi highlight di tahun 2015. Postingan yang seharusnya aku tulis untuk menyicil jurnal kecilku ini, tapi tak pernah sempat.  Semoga aku ga php ya:P

Tapi, hei.. pembicaraan kita belum selesai. Siapa yang menyangka lagi orang yang menganggap tahun ini penuh dengan pencapaian, meragukan dirinya sendiri akan kehidupannya di tahun mendatang?

Iya, aku bener – bener nggak ada bayangan. Bakal jadi apa ya aku. Yang aku tau aku akan sama sibuk bahkan mungkin lebih dari tahun ini. Dan bakal banyak hal yang harus lebih dipertanggungjawabkan.

Mungkin aku masih nggak tahu, di 2016 aku bakal ngapain aja dan apa saja yang harus aku capai. Tetapi setidaknya aku masih berharap, aku masih sama (atau bahkan lebih) kuat.

Bismillahirrahmannirahim.


Goodbye, 2015! Terima kasih.

Rabu, 14 Oktober 2015

Aku Kehilangan Kepercayaannya

Sedih sekali rasanya.
Rasanya kayak kamu ingin memaki dirimu sendiri karena tidak bisa menjaga kepercayaannya.
I mean..
Bukankah kamu sudah menyusun masa depanmu berdasar pada kepercayaannya?
Lalu, kalau sudah begini,

Apa kabar masa depan?

Ulur[k]an Tangan

Mana yang lebih baik?
Mengulur tangan untuk meminta bantuan atau Mengulurkan tangan untuk membantu orang lain?

Sebagian orang saya jamin akan menjawab dengan lantang "ya mengulurkan tanganlah!" karena dari kecil kita terbiasa mendengar istilah "lebih baik tangan diatas daripada tangan dibawah.."

Sebenernya ngga ada yang salah dengan istilah itu, cuma disini aku pengen bahas masalah ulur - mengulurkan ini lebih ke arah yang lebih dalem lagi [mungkin sih].

Bagiku, perihal mana yang baik antara mengulur atau mengulurkan tangan bergantung pada kondisi diri.

Sayangnya, semakin kesini banyak orang yang tidak bijak dengan sendirinya. Termakan sama kalimat - kalimat galau, info - info common sense yang beredar lewat akun abal - abal, atau memang karena kondisi sosial sekarang yang menuntut kita menjadi tidak nyaman untuk membijakkan diri sendiri.


Aku mau tanya. Kira - kira..
Berapa orang yang dengan berani akan meminta pertolongan ketika dia benar - benar sedang jatuh?


Jangan salah lho. Banyak sekali orang yang berusaha kuat, ingin menghadapi semua masalahnya sendirian, sampe batas kemampuannya nggak kuat dan dia justru jatuh lebih dalam. Iya kalau orang - orang disekitarmu punya tangan yang cukup panjang untuk menjangkau lembahmu yang semakin dalam itu? Lah kalau nggak?

Disini, bukan berarti aku melarang kalian buat menjadi sosok yang sangat strong ataupun sebegitu tegarnya. Aku cuma mau coba kasih kalian ide lain. Bahwa nggak semuanya tangan yang diatas berarti baik. Bayangkan kalo quote itu diilhami banget sama seorang dokter. Terus dokternya itu lagi  sakit menular, tapi karena dia mikir dia bukanlah orang yang seharusnya meminta tolong, dan dia seharusnya tetep ngobatin pasiennya dokter tersebut bersikukuh ngobatin pasiennya.

Hasilnya?

Mungkin nggak kalo kerja dokternya jadi nggak maksimal?
Mungkin nggak kalo justru pasiennya ketularan sakit dan bikin sakitnya jadi lebih parah?

Jadi mana yang menurutmu lebih baik?

Silahkan jawab sendiri.

Bijaklah pada dirimu sendiri. Percayalah bahwa dengan menjadi orang yang mengulur tangan, kamu justru bisa nemuin keindahan lain dari tangan orang yang mengulurkan tangan ke kamu.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...