Minggu, 15 Mei 2011

Rumput Penunggu Si Burung Kecil

Postingan ini bukan apa-apa. hanya raauan yang tercipta oleh saya dan rekan saya saudari Adhe Lisa Kurnianingsih saat menggeje via SMS. disini saya hanya ingin mengabadikannya, siapa tau saat kita tua kelak nanti kita dapat mengulang memori-memori geje saat kita masih belia dulu. #plakk hahaha, tuh kan belom apa-apa udah geje.

berawal dari geje yang berkembang menjadi amat geje.

______________________________________________

Hening. hanya suara detik jam yang mampu menjawab semuanya. biarlah. biarlah kebenaran itu terbang dibawa angin dari kipas angin..

Yah.. aku selalu berharap kelak hati itu akan menjadi angin yang bisa menemani burung kecil itu terbang.. bukan hanya menjadi rumput yang hanya bisa memandanginya dari bawah setiap hari, karena ada sejumput rumput kering lain di sebelahnya yang sudah mengetahui rasanya menunggu hingga terbunuh terik matahari.

Lalu tetes gerimis turun, perlahan mengikuti nyanyian alam. setidaknya rumput itu merasakan rasa yang lain, yang lebih ramah. semakin lama semakin banyak, membuat rumput itu tahu, tahu bahwa ia tidak akan selamanya sendiri. masih ada hujan yang setia menemaninya untuk menunggu burung kecil itu menjemputnya.

Si rumput kering memang diam. tapi dia tidak tuli atau buta. kalau perlu, dia bisa menjadi tempat untuk berbagi cerita.. tentu saja kalau si rumput penunggu burung tadi mau memperdengarkan ceritanya.

Si rumput penunggu burung tadi pun memang diam. ia pun tahu dia tidak tuli dan buta. tapi justru karena sikap diamnya ini ia menutup rapat-rapat hatinya. ia hanya terbiasa bersikap tertutup. itu saja. sekali lagi ia bersikap bodoh untuk tetap menunggu si burung kecil itu bernyanyi untuknya. entah kapan.

Rumput kering hanya tersenyum saat melihat temannya. "Hey it was me!" Dia seolah berkaca pada masa lalu saat melihat kawannya. oke, dia memutuskan untuk memandanginya saja. sambil terus berharap dalam hati, bahwa kawannya tak akan sekering dirinya, dan akan bernasib jauh lebih baik dari dirinya.

Lalu masa mengultimatum mereka. memberitahu mereka untuk segera mencari tambatan hati yang lainnya. karena, kemarau akan datang. tentu saja sang hujan akan pergi dalam waktu yang lama.
Apa? Apa yang mereka pilih?.
Tetap diam dan menunggu si burung kecil itu? atau tetap diam, membiarkan kesetiannya hancur lebur bersama tanah akibat sang raja siang?.

Aku tahu dimana tempat berlabuh bagi kawan si rumput kering.. sebuah pohon, dimana si rumput dapat terlindung dari panas. tapi sayangnya aku tak bisa mengatakan dimana pohon itu..
Karena..

_____________________________________

Dua remaja yang sedang tidur di tengah padang rumput itu beranjak. berpamitan kepada dua jumput rumput yang sedari tadi mereka pandangi. mereka berjanji akan kembali membawa burung kecil. untuk membawa hati yang terlantar itu.

_________________________________________


hahaha, geje sekali kan?. aku suka ini, karena ini totally geje. baiklah, itu sebenarnya part "karena..." yang nggantung itu bukan apa-apa, melainkan karena baterenya lowbatt jadi sengaja digantungin gitu, bikin sisi gejenya makin kuat (?).

Baiklah, saya Genta Rachmawati  Putri pamit udur diri.]

Sayonara, minna-san.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...