Rabu, 30 April 2014

. . .

Aku tidak tahu apa yang salah dalam diriku. Aku tahu ada yang salah tapi aku tetap tidak menemukannya.

Oh tidak, atau mungkin aku hanya terlalu keras kepala dan sombong sampai tidak mau mengakui kesalahanku sendiri?

Baiklah, begini..

Aku sedih karena masih saja tidak berubah.

Aku melihat kearahnya, lalu menggeleng. Ke arah yang lain, berpikir, lalu memutuskan mencari yang lain. Kepada yang lainnya lagi aku terdiam, mulutku hampir terbuka, aku bahkan sudah mencicit memberi sinyal pertolongan, namun saat balasan baik itu datang aku malah kehilangan nyali begitu saja lalu mengubah sinyal pertolonganku ke hal yang lain secara profesional, seolah-olah memang itulah tujuan awalku.

Mengerti?

Aku mengais-ngais kepercayaanku kepada orang-orang yang aku harap dapat membantuku, mendengarkanku, menepuk bahuku apapun itu disaat aku jatuh, tapi tetap tidak aku dapatkan. Seolah-olah aku benar-benar sendirian saja di dunia ini. Padahal aku tahu banyak orang yang bisa saja mendengarkanku.

Tapi nyatanya aku tidak memberi izin. Aku mundur lalu berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja.

Lagi.

Apa sih salah mereka? Tidak ada. Aku saja yang bermasalah bukan?

Oh, tapi mungkin juga karena aku trauma?

Terlalu percaya kepada orang yang tidak mempercayaimu balik rasanya cukup menyakitkan lho asal kau tahu saja. Aku pernah merasakannya. Aku bukannya mengemis rasa percaya yang seperti apa, aku hanya tidak terbiasa bersikap egois dengan selalu menjadi yang bercerita tanpa mendengarkannya. Seperti aku ini teman yang tidak punya otak saja.

Tapi lalu apa? Toh aku juga kan yang mundur.

Iya. Mungkin memang itu penyebabnya.

Hei..

Aku sedih karena aku jadi tuna percaya kepada orang-orang disekelilingku. Percayalah, aku mengerti rasanya menjadi orang yang tidak dipercayai.

Kalian bilang hidupku seru, karena aku selalu terlihat bahagia, penuh tawa dan banyolan menyenangkan.

Tapi maafkan aku, entah mengapa pujian kalian seolah menamparku telak. Mungkin aku terlalu hebat berperan sampai mungkin tidak terlintas dipikiran kalian bahwa aku juga sama seperti kalian, punya banyak masalah, dan butuh baskom super besar untuk memuntahkan semuanya sampai aku pucat.

Tapi yasudahlah, memangnya aku bisa apa?

Mungkin aku cuma bisa kembali berperan, berlaku sebaik mungkin, menyelesaikan masalahku sendiri di ruang penggodokan (read: kamar) yang akhir-akhir ini aku rasakan semakin panas dan membuat kepalaku berasap, dan berlaku sebaik mungkin kepada orang-orang disekelilingku (tentu saja untuk yang ini aku lakukan dengan sungguh-sungguh)




Ini cuma masalah waktu kan?

Setidaknya aku harus tetap optimis.

Setidaknya aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...